dan sekarang, sepertinya aku sudah berjalan cukup jauh.
jatuh, terlempar, terlupakan, tergilas, dan aku bangkit berdiri tegak.
selalu ada sesuatu dibalik sesuatu.
itulah yang ingin Allah berikan kepada kita.
sebuah pelajaran untuk sabar dan ikhlas.
jika memang ada sesuatu di balik sesuatu,
engkaukah sang sesuatu tersebut?
sementara ini biarkan semuanya mengendap.
sampai aku bisa melihat melalui cakrawala yang lebih luas.
sehingga nanti aku akan kembali mengambil resiko.
Sunday, September 05, 2010
Saturday, August 07, 2010
arti bersabar,,,
Alkisah, tersebutlah seorang pria yang putus asa dan ingin meninggalkan segalanya. Meninggalkan pekerjaan, hubungan, dan berhenti hidup.
Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.
“Tuhan,” katanya. “Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah ?”
Jawaban Tuhan sangat mengejutkan.
“Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu ?”.
“Ya,” jawab pria itu.
“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, Aku merawat keduanya secara sangat baik. Aku memberi keduanya cahaya. Memberikan air. Pakis tumbuh cepat di bumi. Daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu, benih bambu tidak menghasilkan apapun. Tapi Aku tidak menyerah.
“Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak,
tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu.
Tapi Aku tidak menyerah.
“Di tahun ketiga, benih bambu belum juga memunculkan sesuatu.
Tapi Aku tidak menyerah.
Di tahun ke-4, masih juga belum ada apapun dari benih bambu.
Aku tidak menyerah,” kataNya.
“Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil.
Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.
Tapi 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki.
Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun.
Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.
Aku tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaan-Ku, “kata Tuhan kepada pria itu.
“Tahukah kamu, anak-Ku, di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat ini, kamu sebenarnya menumbuhkan akar-akar?”
“Aku tidak meninggalkan bambu itu. Aku juga tak akan meninggalkanmu.”
“Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” kata Tuhan.
“Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis. Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah.”
“Waktumu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi.”
Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di ujung cerita kehidupan. Usaha tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkanm tapi yakinlah bahwa di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Kehadiran tiap insan pun tidak ada yang sia-sia.
Yakinlah bahwa memang ada peran yang memang hanya kita yang harus memainkan itu, dan berbahagialah karena dengan itu kita bisa membuat dunia semakin berarti. Manusia tidak pernah tahu apa yang baik, tapi dia akan selalu mendapat yang terbaik untuknya pada waktu, tempat, dan kondisi yang tepat. Skenario besar selalu berbicara dan ada maksud di balik itu semua.
Dan kalau memang kita tahu ada peranan itu, sudahkah kita mempersiapkan diri dengan cukup untuk memainkannya dengan baik pada saatnya tiba nanti? Are we ready yet?
Mari kita mempertajam peranan dalam sistem semesta, dan bersama-sama mengembalikan keseimbangan untuk keberlanjutan kehidupan semua. If our earth has 6 billion people and good and bad come around all the time, why don’t we choose to be in the good side?
**copas dengan perubahan judul dari:
http://lequoaila.wordpress.com/2010/03/17/tentang-usaha-hasil-dan-determinasi/
Ia lalu pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya dengan Tuhan Sang Maha Pencipta.
“Tuhan,” katanya. “Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup dan menyerah ?”
Jawaban Tuhan sangat mengejutkan.
“Coba lihat ke sekitarmu. Apakah kamu melihat pakis dan bambu ?”.
“Ya,” jawab pria itu.
“Ketika menanam benih pakis dan benih bambu, Aku merawat keduanya secara sangat baik. Aku memberi keduanya cahaya. Memberikan air. Pakis tumbuh cepat di bumi. Daunnya yang hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu, benih bambu tidak menghasilkan apapun. Tapi Aku tidak menyerah.
“Pada tahun kedua, pakis tumbuh makin subur dan banyak,
tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu.
Tapi Aku tidak menyerah.
“Di tahun ketiga, benih bambu belum juga memunculkan sesuatu.
Tapi Aku tidak menyerah.
Di tahun ke-4, masih juga belum ada apapun dari benih bambu.
Aku tidak menyerah,” kataNya.
“Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil.
Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.
Tapi 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki.
Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun.
Akar ini membuat bambu kuat dan memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.
Aku tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaan-Ku, “kata Tuhan kepada pria itu.
“Tahukah kamu, anak-Ku, di saat menghadapi semua kesulitan dan perjuangan berat ini, kamu sebenarnya menumbuhkan akar-akar?”
“Aku tidak meninggalkan bambu itu. Aku juga tak akan meninggalkanmu.”
“Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” kata Tuhan.
“Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis. Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah.”
“Waktumu akan datang. Kamu akan menanjak dan menjulang tinggi.”
Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di ujung cerita kehidupan. Usaha tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkanm tapi yakinlah bahwa di dunia ini tidak ada yang sia-sia. Kehadiran tiap insan pun tidak ada yang sia-sia.
Yakinlah bahwa memang ada peran yang memang hanya kita yang harus memainkan itu, dan berbahagialah karena dengan itu kita bisa membuat dunia semakin berarti. Manusia tidak pernah tahu apa yang baik, tapi dia akan selalu mendapat yang terbaik untuknya pada waktu, tempat, dan kondisi yang tepat. Skenario besar selalu berbicara dan ada maksud di balik itu semua.
Dan kalau memang kita tahu ada peranan itu, sudahkah kita mempersiapkan diri dengan cukup untuk memainkannya dengan baik pada saatnya tiba nanti? Are we ready yet?
Mari kita mempertajam peranan dalam sistem semesta, dan bersama-sama mengembalikan keseimbangan untuk keberlanjutan kehidupan semua. If our earth has 6 billion people and good and bad come around all the time, why don’t we choose to be in the good side?
**copas dengan perubahan judul dari:
http://lequoaila.wordpress.com/2010/03/17/tentang-usaha-hasil-dan-determinasi/
Tuesday, July 27, 2010
Saturday, July 24, 2010
black, brown, and white.
so, this is the new blog layout.
black, brown, and white.
dedicated to my best best best friend who like that colors so much.
"hei, hold tight to your faith, my friend.
"keep calm, for the good of the "both" of you.
"you always have us, your friends, at your side.
"we can make it."
bandung,24 july 2010
21th days of trike aircraft lost.
black, brown, and white.
dedicated to my best best best friend who like that colors so much.
"hei, hold tight to your faith, my friend.
"keep calm, for the good of the "both" of you.
"you always have us, your friends, at your side.
"we can make it."
bandung,24 july 2010
21th days of trike aircraft lost.
Friday, July 09, 2010
Jerman vs Spanyol (serta Barcelona vs Inter)
Spanyol menggunakan sistem possession football dengan umpan-umpan pendek (disebut juga tiki-taka, atau orang Inggris menyebutnya tippy-tappy). Keywordnya adalah quick pass & one touch. Sistem ini adalah pengembangan dari totaal football yang dibawa oleh Johan Cruyff ke Barcelona. Dan memang tim Spanyol sekarang adalah sangat identik dengan tim Barcelona, bahkan ada yang menyebutnya sebagai Barcelona jilid 2, seperti halnya Jerman sangat identik dengan Bayern Munchen.
Jadi, nyawa dari tim Spanyol adalah menguasai bola sebanyak mungkin, bahkan Iniesta sendiri mengatakan bahwa pemain Spanyol tidak akan nyaman bermain bola jika tidak memegang bola, sehingga mereka akan berusaha sekuat tenaga bagaimana untuk bisa memegang bola selama mungkin.
Tidak semua negara bisa menggunakan sistem yang dipakai Spanyol karena butuh skill yang ekstra tinggi, skema permainan yang rumit dan detail, kerjasama yang dibangun sejak lama sekali karena membutuhkan kekompakan yang luar biasa, dan stamina yang lebih karena pemain jadi banyak bergerak. Hampir semua pelatih di WC 2010 mengatakan bahwa tim Spanyol mempunyai generasi pemain paling baik di turnamen, bukan hanya tim starter-nya saja, tetapi tim cadangannya pun berkualitas sama dan bahkan mempunyai karakter yang berbeda sehingga bisa memberikan perbedaan skema permainan jika tim Spanyol menemui jalan buntu. Contohnya, skema permainan akan berbeda jika menggunakan Pedro atau Fabregas yang lebih bermain ke tengah dengan jika menggunakan David Silva & Jesus Navas yang merupakan pemain sayap murni yang bermain melebar.
Kelebihan dari skema permainan ini adalah struktur aliran bola yang sangat rapi dari belakang ke depan sehingga enak dilihat dan hasilnya adalah tim Spanyol akan lebih banyak menekan lawan-lawannya sehingga lawan bisa stress. Motto "a goal is the last passing" yang dikeluarkan oleh Johan Cruyff ketika melatih Barcelona mencerminkan betul betapa Spanyol sangat bagus dalam passing dan pergerakan pemain.
Kelemahan sistem ini, salah satunya adalah posisi pemain bisa menjadi agak acak karena harus bergerak kesana-kemari, sehingga bisa kewalahan jika harus menghadapi serangan balik yang cepat. Kelemahan yang lain adalah stamina yang bisa terkuras ketika mendekati akhir permainan karena pemain Spanyol lebih banyak bergerak.
Pola permainan Jerman sebenarnya sangat simpel, yaitu bertahan bersama-sama dan menyerang bersama-sama. Keywordnya adalah steady-wave (baik dalam menyerang maupun bertahan), stamina yang kuat, dan disiplin dalam bermain. Jerman tidak mengandalkan kualitas individu, tetapi lebih kepada strategi bermain, oleh karenanya dinamakan text-book football. Jerman sangat menghindari kesalahan individu seperti salah mengumpan, marking dari sisi yang salah, dan penempatan posisi yang tidak tepat. Tetapi pemain Jerman sekarang berbeda dengan sebelum-sebelumnya karena ada beberapa pemain yang mempunyai skill tinggi dan bisa mem-drible bola dengan baik (seperti Lahm, Schweinsteiger, Marko Marin, dan Ozil). Mereka bertahan dengan sangat disiplin, dan menyerang dengan cermat. Motto "a machinist will not stop the train before the last station" sangat dijiwai oleh semua pemain Jerman.
Jika Spanyol bermain agak "berputar-putar" dan Inggris bermain ekstra cepat, maka Jerman akan bermain dengan sabar, langsung menuju ke area lawan, berdasarkan skema yang sudah dilatih, dan dalam tempo yang tetap.
Dalam kasus Spanyol vs Serbia, kelemahan Spanyol dalam serangan balik bisa dimanfaatkan betul oleh Serbia. Sehingga Del Bosque sebagai pelatih tim Spanyol memperbaiki dengan salah satunya caranya adalah menempatkan Xabi Alonso lebih dalam ke garis pertahanan untuk menahan laju bola.
Dalam kasus Spanyol vs Jerman, memang Spanyol berhasil menggunakan kelebihan mereka dalam skill individu, penguasaan bola, dan pengalaman (tim Spanyol adalan tim yang hampir sama dengan saat menjuarai piala eropa 2008, sedangkan tim Jerman sekarang lebih banyak pemain timnas U-21 yang menjuarai piala eropa U-21 tahun lalu). Jerman cukup bisa mengimbangi dan merusak permainan Spanyol sehingga kita bisa melihat bahwa Spanyol sebenarnya tidak cukup banyak memegang bola karena penguasaannya hanya 51% (Spanyol dan Barcelona sering mempunyai penguasaan bola lebih dari 60%), sehingga bisa dikatakan cukup beruntung mempunyai duet maut Xavi-Puyol yang memang di Barcelona sudah cukup sering mereka berdua sukses menjalankan set-piece dimana Xavi menendang sepak pojok dan Puyol muncul dari Belakang. Sedangkan Jerman justru gagal mengembangkan permainan kolektif mereka dalam serangan balik yang cepat, efektif, dan cermat. Sebabnya mungkin karena Ozil memang mempunyai stamina yang kurang baik dan Klose sedang kurang fit.
Dalam kasus Barcelona vs Inter, tentu tidak bisa dipisahkan dari seorang Jose Mourinho. Jose Mourinho sebenarnya adalah penganut sistem sepakbola Jerman, ditambah sentuhan lain dengan menggunakan pemain kreatif (seperti Deco di Porto dan Sneijder di Inter). Pertahanan adalah kunci dari sepakbola, seperti halnya yang diyakini oleh Capello.
Inter menggunakan formasi 4-5-1 dimana ketika bertahan akan menjadi 8-1-1 yaitu menumpuk 8 pemain bertahan (4 bek dan 4 DM; bahkan Eto'o yang striker pun dipaksa menjadi DM), 1 pemain tengah (Sneijder), dan 1 striker (Milito). Bahkan ketika bermain di Nou Camp, Mourinho menurunkan 5 bek. Ketika menyerang, formasinya berubah menjadi 6-2-1-1.
Barcelona yang menggunakan umpan pendek dan cepat diatasi dengan memasang pertahanan sangat rapat dan disiplin. Hal ini dimungkinkan karena Inter mempunyai bek yang sangat berpengalaman dalam diri Lucio, Maicon, Walter Samuel, Zanetti, dan Chivu, serta pemain DM yang tangguh seperti Cambiasso, Thiago Motta.
Sayangnya Barcelona tidak mempunyai plan B saat membentur tembok pertahanan Inter, yaitu Barcelona memasang pemain sayap yang cenderung ke tengah (Iniesta & Pedro), tidak seperti timnas Spanyol yang memiliki alternatif lain pada Jesus Navas dan Silva yang merupakan pemain sayap murni dan bermain melebar.
Kelemahan Barcelona dalam serangan balik dimanfaatkan betul oleh Inter dengan kerjasama yang apik antara Sneijder dan Milito.
Sejarah pertemuan Mourinho dengan Barcelona dimulai saat masih di Chelsea pada Liga Champion musim 2005-2006 dengan kekalahan Mourinho, Liga Champion musim 2008-2009 juga dengan kekalahan Mourinho, dan saat di Inter pada Liga Champion musim 2009-2010 dengan kemenangan di pihak Mourinho.
Di sisi ini Mourinho terpaksa menelan ludahnya sendiri karena setelah Chelsea vs Tottenham Hotspur September 2004 yang berakhir 0 - 0, ia berkata, "As we say in Portugal, they brought the bus and they left the bus in front of the goal. I would have been frustrated if I had been a supporter who paid £50 to watch this game because Spurs came to defend. There was only one team looking to win, they only came not to concede - it's not fair for the football we played".
Kali ini Mouriho lah yang memarkir bus di depan gawangnya.
salam,
2010 07 08
Jadi, nyawa dari tim Spanyol adalah menguasai bola sebanyak mungkin, bahkan Iniesta sendiri mengatakan bahwa pemain Spanyol tidak akan nyaman bermain bola jika tidak memegang bola, sehingga mereka akan berusaha sekuat tenaga bagaimana untuk bisa memegang bola selama mungkin.
Tidak semua negara bisa menggunakan sistem yang dipakai Spanyol karena butuh skill yang ekstra tinggi, skema permainan yang rumit dan detail, kerjasama yang dibangun sejak lama sekali karena membutuhkan kekompakan yang luar biasa, dan stamina yang lebih karena pemain jadi banyak bergerak. Hampir semua pelatih di WC 2010 mengatakan bahwa tim Spanyol mempunyai generasi pemain paling baik di turnamen, bukan hanya tim starter-nya saja, tetapi tim cadangannya pun berkualitas sama dan bahkan mempunyai karakter yang berbeda sehingga bisa memberikan perbedaan skema permainan jika tim Spanyol menemui jalan buntu. Contohnya, skema permainan akan berbeda jika menggunakan Pedro atau Fabregas yang lebih bermain ke tengah dengan jika menggunakan David Silva & Jesus Navas yang merupakan pemain sayap murni yang bermain melebar.
Kelebihan dari skema permainan ini adalah struktur aliran bola yang sangat rapi dari belakang ke depan sehingga enak dilihat dan hasilnya adalah tim Spanyol akan lebih banyak menekan lawan-lawannya sehingga lawan bisa stress. Motto "a goal is the last passing" yang dikeluarkan oleh Johan Cruyff ketika melatih Barcelona mencerminkan betul betapa Spanyol sangat bagus dalam passing dan pergerakan pemain.
Kelemahan sistem ini, salah satunya adalah posisi pemain bisa menjadi agak acak karena harus bergerak kesana-kemari, sehingga bisa kewalahan jika harus menghadapi serangan balik yang cepat. Kelemahan yang lain adalah stamina yang bisa terkuras ketika mendekati akhir permainan karena pemain Spanyol lebih banyak bergerak.
Pola permainan Jerman sebenarnya sangat simpel, yaitu bertahan bersama-sama dan menyerang bersama-sama. Keywordnya adalah steady-wave (baik dalam menyerang maupun bertahan), stamina yang kuat, dan disiplin dalam bermain. Jerman tidak mengandalkan kualitas individu, tetapi lebih kepada strategi bermain, oleh karenanya dinamakan text-book football. Jerman sangat menghindari kesalahan individu seperti salah mengumpan, marking dari sisi yang salah, dan penempatan posisi yang tidak tepat. Tetapi pemain Jerman sekarang berbeda dengan sebelum-sebelumnya karena ada beberapa pemain yang mempunyai skill tinggi dan bisa mem-drible bola dengan baik (seperti Lahm, Schweinsteiger, Marko Marin, dan Ozil). Mereka bertahan dengan sangat disiplin, dan menyerang dengan cermat. Motto "a machinist will not stop the train before the last station" sangat dijiwai oleh semua pemain Jerman.
Jika Spanyol bermain agak "berputar-putar" dan Inggris bermain ekstra cepat, maka Jerman akan bermain dengan sabar, langsung menuju ke area lawan, berdasarkan skema yang sudah dilatih, dan dalam tempo yang tetap.
Dalam kasus Spanyol vs Serbia, kelemahan Spanyol dalam serangan balik bisa dimanfaatkan betul oleh Serbia. Sehingga Del Bosque sebagai pelatih tim Spanyol memperbaiki dengan salah satunya caranya adalah menempatkan Xabi Alonso lebih dalam ke garis pertahanan untuk menahan laju bola.
Dalam kasus Spanyol vs Jerman, memang Spanyol berhasil menggunakan kelebihan mereka dalam skill individu, penguasaan bola, dan pengalaman (tim Spanyol adalan tim yang hampir sama dengan saat menjuarai piala eropa 2008, sedangkan tim Jerman sekarang lebih banyak pemain timnas U-21 yang menjuarai piala eropa U-21 tahun lalu). Jerman cukup bisa mengimbangi dan merusak permainan Spanyol sehingga kita bisa melihat bahwa Spanyol sebenarnya tidak cukup banyak memegang bola karena penguasaannya hanya 51% (Spanyol dan Barcelona sering mempunyai penguasaan bola lebih dari 60%), sehingga bisa dikatakan cukup beruntung mempunyai duet maut Xavi-Puyol yang memang di Barcelona sudah cukup sering mereka berdua sukses menjalankan set-piece dimana Xavi menendang sepak pojok dan Puyol muncul dari Belakang. Sedangkan Jerman justru gagal mengembangkan permainan kolektif mereka dalam serangan balik yang cepat, efektif, dan cermat. Sebabnya mungkin karena Ozil memang mempunyai stamina yang kurang baik dan Klose sedang kurang fit.
Dalam kasus Barcelona vs Inter, tentu tidak bisa dipisahkan dari seorang Jose Mourinho. Jose Mourinho sebenarnya adalah penganut sistem sepakbola Jerman, ditambah sentuhan lain dengan menggunakan pemain kreatif (seperti Deco di Porto dan Sneijder di Inter). Pertahanan adalah kunci dari sepakbola, seperti halnya yang diyakini oleh Capello.
Inter menggunakan formasi 4-5-1 dimana ketika bertahan akan menjadi 8-1-1 yaitu menumpuk 8 pemain bertahan (4 bek dan 4 DM; bahkan Eto'o yang striker pun dipaksa menjadi DM), 1 pemain tengah (Sneijder), dan 1 striker (Milito). Bahkan ketika bermain di Nou Camp, Mourinho menurunkan 5 bek. Ketika menyerang, formasinya berubah menjadi 6-2-1-1.
Barcelona yang menggunakan umpan pendek dan cepat diatasi dengan memasang pertahanan sangat rapat dan disiplin. Hal ini dimungkinkan karena Inter mempunyai bek yang sangat berpengalaman dalam diri Lucio, Maicon, Walter Samuel, Zanetti, dan Chivu, serta pemain DM yang tangguh seperti Cambiasso, Thiago Motta.
Sayangnya Barcelona tidak mempunyai plan B saat membentur tembok pertahanan Inter, yaitu Barcelona memasang pemain sayap yang cenderung ke tengah (Iniesta & Pedro), tidak seperti timnas Spanyol yang memiliki alternatif lain pada Jesus Navas dan Silva yang merupakan pemain sayap murni dan bermain melebar.
Kelemahan Barcelona dalam serangan balik dimanfaatkan betul oleh Inter dengan kerjasama yang apik antara Sneijder dan Milito.
Sejarah pertemuan Mourinho dengan Barcelona dimulai saat masih di Chelsea pada Liga Champion musim 2005-2006 dengan kekalahan Mourinho, Liga Champion musim 2008-2009 juga dengan kekalahan Mourinho, dan saat di Inter pada Liga Champion musim 2009-2010 dengan kemenangan di pihak Mourinho.
Di sisi ini Mourinho terpaksa menelan ludahnya sendiri karena setelah Chelsea vs Tottenham Hotspur September 2004 yang berakhir 0 - 0, ia berkata, "As we say in Portugal, they brought the bus and they left the bus in front of the goal. I would have been frustrated if I had been a supporter who paid £50 to watch this game because Spurs came to defend. There was only one team looking to win, they only came not to concede - it's not fair for the football we played".
Kali ini Mouriho lah yang memarkir bus di depan gawangnya.
salam,
2010 07 08
Thursday, July 08, 2010
Defensive Midfielder
Apa yang membedakan antara tim Inggris, Perancis, Portugal, & Italy yang gagal di babak awal piala dunia kali ini dengan tim Argentina, Jerman, Belanda, Brazil, dan Spanyol?
Salah satu jawabannya adalah kualitas defensive midfielder yang dimilikii oleh Argentina, Jerman, Belanda, Brazil, & Spanyol memang lebih baik. Sepakbola modern membutuhkan sistem pertahanan yang lebih kuat karena telah berkembang begitu pesatnya pola serangan, baik lewat sayap maupun lewat tengah.
Mengapa bukan kualitas strikernya? Mari kita bahas.
Defensive midfielder (DM) atau biasa disebut juga holding midfielder atau dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai gelandang bertahan, adalah pemain yang di dalam formasi mempunyai daerah bermain di tengah lapangan. Posisinya yang berada di antara bek dan striker, membuat peran DM disebut sebagai penghubung antara lini depan dan lini belakang, juga disebut sebagai second line pada saat penyerangan dan first line saat bertahan.
DM harus bisa memainkan peran menyerang maupun bertahan dengan baik. Karakteristik yang harus dipunyai seorang DM adalah fisik yang kuat karena harus mengcover lapangan lebih luas, skill untuk bermain bertahan dan menyerang sekaligus, kemampuan membaca serangan, & mempunyai visi bermain yang baik karena perannya yang biasanya menjadi titik awal dari skema menyerang, baik ketika harus memutar otak untuk membongkar pertahanan lawan maupun ketika akan melakukan serangan balik.
Jika peran bek yang utamanya adalah menjaga kotak penallti dan "menyapu bersih" bola lawan, maka DM perannya adalah pada pertahanan zona (meminimalisasi ruang), marking, dan mengamati pergerakan lawan.
Berbeda pula dengan para striker dan gelandang menyerang yang tugasnya adalah membongkar pertahanan lawan, tugas DM adalah menjadi pelapis ketika fase serangan gagal menembus pertahanan lawan dan memberikan perlindungan saat ada serangan balik.
DM, dalam pandangan saya, ada dua jenis. Jenis pertama adalah DM yang bertipe petarung, contohnya adalah Javier Mascherano (Argentina), Gilberto Silva & Felipe Melo (Brazil), Sami Khedira (Jerman), & Nigel de Jong (Belanda).
Jenis kedua adalah bertipe pengatur alur bola atau saya menyebutnya pemain jangkar atau disebut juga "Box-to-box" midfielder, contohnya adalah Xabi Alonso (Spanyol), Pattrick Viera (Perancis), Bastian Schweinsteiger (Jerman), & Van Bommel (Belanda).
DM jenis kedua sangat dibutuhkan oleh tim karena darinyalah serangan dimulai dan pertahanan dibangun. Argentina sebenarnya mempunyai DM jenis ini pada diri Esteban Cambiasso, akan tetapi tidak dibawa oleh Maradona.
Nah, kemanakah para pemain tengah yang lain? Gerrard, Lampard, Xavi, & Iniesta adalah Central midfielder (CM), sedangkan Sneijder, Ozil, Messi, CR, & Kaka adalah attacking midfielder (AM). Sering juga CM dan AM disebut sebagai playmaker karena memang bertanggungjawab penuh dalam membagi bola, mengatur skema penyerangan, dan menentukan tempo permainan.
DM memang tidak perlu berskill tinggi macam para AM atau mempunyai tembakan keras dan akurat macam striker, tetapi kemampuan membaca permainan, mempertahankan daerah, merebut bola, & membawa bola ke depan adalah yang paling utama.
Perkembangan formasi sepakbola dari 3-4-3 ke 4-4-2 dan sekarang ke 4-5-1 (atau bisa disebut juga 4-4-3), salah satunya adalah untuk mengakomodasi kebutuhan tim pada peran defensive midfielder yang handal.
Pada pola 4-4-2, permainan bertahan dilakukan oleh 4 bek, 1 gelandang bertahan, dan kedua sayapnya harus cepat-cepat turun untuk membantu pertahanan. Saat menyerang, maka kedua striker disupport oleh 1 gelandang serang di tengah dan kedua sayap, dengan umpan-umpan crossing dari sayap adalah nyawa dari serangan tim.
Akan tetapi, pola ini mengandung kelemahan dalam hal variasi serangan, dimana para bek biasanya sudah mempelajari dengan baik pola crossing yang memang relatif mudah untuk dibaca. Juga mengandung kelemahan dalam bertahan, dimana 1 gelandang bertahan sering kali tidak cukup untuk membendung serangan.
Oleh karena itu dikembangkanlah pola 4-5-1 (atau bisa disebut juga 4-3-3). Pola ini bisa berbentuk 4-2-3-1 atau 4-1-4-1. Pola 4-2-3-1 dipakai jika menginginkan keseimbangan bertahan dan menyerang yang baik, dimana akan ada 6 pemain yang cenderung bertahan dan 4 pemain cenderung menyerang. Pola ini dipakai oleh Jerman (Schweinsteger sebagai pemain jangkar dan Sami Khedira sebagai petarung), Spanyol (Xabi Alonso sebagai jangkar & Sergio Busquets sebagai petarung), dan Belanda (De Jong sebagai petarung & Van Bommel sebagai jangkar).
Pola yang sama juga dianut oleh Arsenal saat mencetak rekor tidak terkalahkan dalam satu musim dan 49 pertandingan, dengan 5 pemain tengahnya yaitu Gilberto Silva sebagai DM tipe petarung, Viera sebagai DM tipe jangkar, Pires & Ljungberg sebagai sayap, dan Bergkamp sebagai attacking midfielder sekaligus second striker.
MU juga menganut pola yang 4-2-3-1 dengan Carrick sebagai petarung, Fletcher sebagai jangkar, dan Anderson/Scholes sebagai playmaker. Hanya saja Scholes sudah mulai tua dan Anderson belum cukup mampu menggantikannya, tetapi MU cukup tertolong oleh penampilan Rooney yang benar-benar menjadi lumbung goal MU atau CR pada musim sebelumnya.
Sedangkan Chelsea, cukup berani memainkan dua striker murni karena mempunyai CM yang sangat baik dalam bertahan dan menyerah seperti pada Lampard, Ballack, Kalou, dan Malouda, juga mempunyai DM jangkar yang sangat tangguh pada diri Essien. Chelsea agak goyah ketika Essien cedera, tetapi dengan cepat bisa diatasi dengan memainkan Mikel sebagai pengganti dan menarik Anelka ke sayap.
Nah Liverpool, ternyata kehilangan Xabi Alonso dan lamanya cedera yang dialami Aquilani membuat mereka harus terlempar dari The Big Four karena tidak adanya pemain jangkar yang cukup baik.
Argentina dan Brazil juga memakai pola 4-2-3-1 tetapi kedua pemain DM-nya adalah tipe petarung, yaitu Mascherano dan Rodrigues di Argentina, serta Gilberto Silva & Melo di Brazil. Dengan tiadanya pemain jangkar yang membawa bola dari belakang ke depan, itu terlihat sekali bahwa ada missing link antara lini depan dan lini belakang pada tim Brazil dan Argentina jika dibandingkan dengan yang terjadi pada tim Jerman, Belanda, & Spanyol.
Pola 4-1-4-1 dipakai jika pelatih ingin permainan lebih menyerang. DM yang digunakan adalah satu yaitu yang bertipe jangkar, dengan dua buah AM dipasang atau dua striker dengan second striker agak ke tengah. Pola 4-1-4-1 ini dipakai oleh tim Inggris, Portugal, & Perancis. Juga dipakai oleh Spanyol, Jerman, dan Belanda saat gol belum juga didapatkan setelah permainan sudah cukup lama dijalankan. DM tipe jangkar pada pola 4-1-4-1 haruslah yang benar-benar fit dan berkualitas, harus bisa bertarung dan mendelivery bola ke depan dengan sama baiknya. Xabi Alonso, Schweinsteiger, Van Bommel, dan Tiago (Portugal) adalah beberapa DM jangkar yang fit dan berkualitas di piala dunia 2010. Oleh karena itu ketiga tim tersebut mempunyai keleluasaan untuk memainkan baik 4-2-3-1 maupun 4-1-4-1.
Kali ini saya akan menganalisis mengapa Inggris bisa kalah telak dari Jerman. Dari sudut pandang pentingnya pertahanan dalam sepakbola modern, bisa dikatakan bahwa Inggris memang tidak beruntung karena tidak memiliki kiper yang bagus dan DM yang fit. Gareth Barry adalah DM tipe jangkar yang bagus, hanya saja ia tidak fit, selain karena umur yang sudah mencapai 29, ia juga baru saja sembuh dari cedera yang lama. Capello memang memilih untuk memainkan Gerrard dan Lampard di tengah, hanya saja Gareth Barry yang kurang fit ini dimanfaatkan dengan baik tim Jerman. Seharusnya Inggris memainkan dua orang DM untuk menopang Gerrard dan Lampard yang sering dimainkan bersama, dimana harus memilih Gerrard atau Lampard untuk ditaruh di tengah dan satunya lagi di sayap.
Dari gol pertama yang dibuat oleh Klose, terlihat sekali bahwa Klose sukses besar memanfaatkan longgarnya pertahanan karena John Terry harus agak ke depan untuk mendukung Gareth Barry yang sendirian menjaga zona tengah. Gol kedua, ketiga, dan keempat, adalah karena tidak siapnya Inggris menghadapi serangan balik, dimana disinilah letak pentingnya DM yang fit karena DM akan mengamati pergerakan lawan & memutus aliran bola.
Mungkin akan berbeda hasilnya jika Inggris mempunyai DM seperti Xabi Alonso, Pattrick Vierra, Van Bommel, atau Schweinsteiger; masih muda, fit, dan berkualitas.
Pada pertandingan Brazil vs Belanda, di gol pertama yang dicetak oleh Robinho, itulah harga yang harus dibayar karena Nigel de Jong tidak main.
Pada pertandingan Belanda vs Uruguay, terlihat bahwa pola 4-4-2 yang diusung oleh Uruguay sangat rapuh menghadapi serangan yang begitu intens dari Belanda. Terutama karena Belanda banyak mengandalkan serangan dari tengah dan dari bola-bola bawah, memanfaatkan longgarnya lini tengah karena hanya ada satu orang DM disana.
Saat gol Puyol tadi malam, kamera langsung membidik kekecewaan yang begitu dalam pada Schweinsteiger & Khedira karena memang keduanya lah yang seharusnya memperhatikan betul pergerakan pemain macam Puyol yang tiba-tiba muncul dari belakang.
-2010 07 08-
***agak kacau nih strukturnya. bae lah.
Salah satu jawabannya adalah kualitas defensive midfielder yang dimilikii oleh Argentina, Jerman, Belanda, Brazil, & Spanyol memang lebih baik. Sepakbola modern membutuhkan sistem pertahanan yang lebih kuat karena telah berkembang begitu pesatnya pola serangan, baik lewat sayap maupun lewat tengah.
Mengapa bukan kualitas strikernya? Mari kita bahas.
Defensive midfielder (DM) atau biasa disebut juga holding midfielder atau dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai gelandang bertahan, adalah pemain yang di dalam formasi mempunyai daerah bermain di tengah lapangan. Posisinya yang berada di antara bek dan striker, membuat peran DM disebut sebagai penghubung antara lini depan dan lini belakang, juga disebut sebagai second line pada saat penyerangan dan first line saat bertahan.
DM harus bisa memainkan peran menyerang maupun bertahan dengan baik. Karakteristik yang harus dipunyai seorang DM adalah fisik yang kuat karena harus mengcover lapangan lebih luas, skill untuk bermain bertahan dan menyerang sekaligus, kemampuan membaca serangan, & mempunyai visi bermain yang baik karena perannya yang biasanya menjadi titik awal dari skema menyerang, baik ketika harus memutar otak untuk membongkar pertahanan lawan maupun ketika akan melakukan serangan balik.
Jika peran bek yang utamanya adalah menjaga kotak penallti dan "menyapu bersih" bola lawan, maka DM perannya adalah pada pertahanan zona (meminimalisasi ruang), marking, dan mengamati pergerakan lawan.
Berbeda pula dengan para striker dan gelandang menyerang yang tugasnya adalah membongkar pertahanan lawan, tugas DM adalah menjadi pelapis ketika fase serangan gagal menembus pertahanan lawan dan memberikan perlindungan saat ada serangan balik.
DM, dalam pandangan saya, ada dua jenis. Jenis pertama adalah DM yang bertipe petarung, contohnya adalah Javier Mascherano (Argentina), Gilberto Silva & Felipe Melo (Brazil), Sami Khedira (Jerman), & Nigel de Jong (Belanda).
Jenis kedua adalah bertipe pengatur alur bola atau saya menyebutnya pemain jangkar atau disebut juga "Box-to-box" midfielder, contohnya adalah Xabi Alonso (Spanyol), Pattrick Viera (Perancis), Bastian Schweinsteiger (Jerman), & Van Bommel (Belanda).
DM jenis kedua sangat dibutuhkan oleh tim karena darinyalah serangan dimulai dan pertahanan dibangun. Argentina sebenarnya mempunyai DM jenis ini pada diri Esteban Cambiasso, akan tetapi tidak dibawa oleh Maradona.
Nah, kemanakah para pemain tengah yang lain? Gerrard, Lampard, Xavi, & Iniesta adalah Central midfielder (CM), sedangkan Sneijder, Ozil, Messi, CR, & Kaka adalah attacking midfielder (AM). Sering juga CM dan AM disebut sebagai playmaker karena memang bertanggungjawab penuh dalam membagi bola, mengatur skema penyerangan, dan menentukan tempo permainan.
DM memang tidak perlu berskill tinggi macam para AM atau mempunyai tembakan keras dan akurat macam striker, tetapi kemampuan membaca permainan, mempertahankan daerah, merebut bola, & membawa bola ke depan adalah yang paling utama.
Perkembangan formasi sepakbola dari 3-4-3 ke 4-4-2 dan sekarang ke 4-5-1 (atau bisa disebut juga 4-4-3), salah satunya adalah untuk mengakomodasi kebutuhan tim pada peran defensive midfielder yang handal.
Pada pola 4-4-2, permainan bertahan dilakukan oleh 4 bek, 1 gelandang bertahan, dan kedua sayapnya harus cepat-cepat turun untuk membantu pertahanan. Saat menyerang, maka kedua striker disupport oleh 1 gelandang serang di tengah dan kedua sayap, dengan umpan-umpan crossing dari sayap adalah nyawa dari serangan tim.
Akan tetapi, pola ini mengandung kelemahan dalam hal variasi serangan, dimana para bek biasanya sudah mempelajari dengan baik pola crossing yang memang relatif mudah untuk dibaca. Juga mengandung kelemahan dalam bertahan, dimana 1 gelandang bertahan sering kali tidak cukup untuk membendung serangan.
Oleh karena itu dikembangkanlah pola 4-5-1 (atau bisa disebut juga 4-3-3). Pola ini bisa berbentuk 4-2-3-1 atau 4-1-4-1. Pola 4-2-3-1 dipakai jika menginginkan keseimbangan bertahan dan menyerang yang baik, dimana akan ada 6 pemain yang cenderung bertahan dan 4 pemain cenderung menyerang. Pola ini dipakai oleh Jerman (Schweinsteger sebagai pemain jangkar dan Sami Khedira sebagai petarung), Spanyol (Xabi Alonso sebagai jangkar & Sergio Busquets sebagai petarung), dan Belanda (De Jong sebagai petarung & Van Bommel sebagai jangkar).
Pola yang sama juga dianut oleh Arsenal saat mencetak rekor tidak terkalahkan dalam satu musim dan 49 pertandingan, dengan 5 pemain tengahnya yaitu Gilberto Silva sebagai DM tipe petarung, Viera sebagai DM tipe jangkar, Pires & Ljungberg sebagai sayap, dan Bergkamp sebagai attacking midfielder sekaligus second striker.
MU juga menganut pola yang 4-2-3-1 dengan Carrick sebagai petarung, Fletcher sebagai jangkar, dan Anderson/Scholes sebagai playmaker. Hanya saja Scholes sudah mulai tua dan Anderson belum cukup mampu menggantikannya, tetapi MU cukup tertolong oleh penampilan Rooney yang benar-benar menjadi lumbung goal MU atau CR pada musim sebelumnya.
Sedangkan Chelsea, cukup berani memainkan dua striker murni karena mempunyai CM yang sangat baik dalam bertahan dan menyerah seperti pada Lampard, Ballack, Kalou, dan Malouda, juga mempunyai DM jangkar yang sangat tangguh pada diri Essien. Chelsea agak goyah ketika Essien cedera, tetapi dengan cepat bisa diatasi dengan memainkan Mikel sebagai pengganti dan menarik Anelka ke sayap.
Nah Liverpool, ternyata kehilangan Xabi Alonso dan lamanya cedera yang dialami Aquilani membuat mereka harus terlempar dari The Big Four karena tidak adanya pemain jangkar yang cukup baik.
Argentina dan Brazil juga memakai pola 4-2-3-1 tetapi kedua pemain DM-nya adalah tipe petarung, yaitu Mascherano dan Rodrigues di Argentina, serta Gilberto Silva & Melo di Brazil. Dengan tiadanya pemain jangkar yang membawa bola dari belakang ke depan, itu terlihat sekali bahwa ada missing link antara lini depan dan lini belakang pada tim Brazil dan Argentina jika dibandingkan dengan yang terjadi pada tim Jerman, Belanda, & Spanyol.
Pola 4-1-4-1 dipakai jika pelatih ingin permainan lebih menyerang. DM yang digunakan adalah satu yaitu yang bertipe jangkar, dengan dua buah AM dipasang atau dua striker dengan second striker agak ke tengah. Pola 4-1-4-1 ini dipakai oleh tim Inggris, Portugal, & Perancis. Juga dipakai oleh Spanyol, Jerman, dan Belanda saat gol belum juga didapatkan setelah permainan sudah cukup lama dijalankan. DM tipe jangkar pada pola 4-1-4-1 haruslah yang benar-benar fit dan berkualitas, harus bisa bertarung dan mendelivery bola ke depan dengan sama baiknya. Xabi Alonso, Schweinsteiger, Van Bommel, dan Tiago (Portugal) adalah beberapa DM jangkar yang fit dan berkualitas di piala dunia 2010. Oleh karena itu ketiga tim tersebut mempunyai keleluasaan untuk memainkan baik 4-2-3-1 maupun 4-1-4-1.
Kali ini saya akan menganalisis mengapa Inggris bisa kalah telak dari Jerman. Dari sudut pandang pentingnya pertahanan dalam sepakbola modern, bisa dikatakan bahwa Inggris memang tidak beruntung karena tidak memiliki kiper yang bagus dan DM yang fit. Gareth Barry adalah DM tipe jangkar yang bagus, hanya saja ia tidak fit, selain karena umur yang sudah mencapai 29, ia juga baru saja sembuh dari cedera yang lama. Capello memang memilih untuk memainkan Gerrard dan Lampard di tengah, hanya saja Gareth Barry yang kurang fit ini dimanfaatkan dengan baik tim Jerman. Seharusnya Inggris memainkan dua orang DM untuk menopang Gerrard dan Lampard yang sering dimainkan bersama, dimana harus memilih Gerrard atau Lampard untuk ditaruh di tengah dan satunya lagi di sayap.
Dari gol pertama yang dibuat oleh Klose, terlihat sekali bahwa Klose sukses besar memanfaatkan longgarnya pertahanan karena John Terry harus agak ke depan untuk mendukung Gareth Barry yang sendirian menjaga zona tengah. Gol kedua, ketiga, dan keempat, adalah karena tidak siapnya Inggris menghadapi serangan balik, dimana disinilah letak pentingnya DM yang fit karena DM akan mengamati pergerakan lawan & memutus aliran bola.
Mungkin akan berbeda hasilnya jika Inggris mempunyai DM seperti Xabi Alonso, Pattrick Vierra, Van Bommel, atau Schweinsteiger; masih muda, fit, dan berkualitas.
Pada pertandingan Brazil vs Belanda, di gol pertama yang dicetak oleh Robinho, itulah harga yang harus dibayar karena Nigel de Jong tidak main.
Pada pertandingan Belanda vs Uruguay, terlihat bahwa pola 4-4-2 yang diusung oleh Uruguay sangat rapuh menghadapi serangan yang begitu intens dari Belanda. Terutama karena Belanda banyak mengandalkan serangan dari tengah dan dari bola-bola bawah, memanfaatkan longgarnya lini tengah karena hanya ada satu orang DM disana.
Saat gol Puyol tadi malam, kamera langsung membidik kekecewaan yang begitu dalam pada Schweinsteiger & Khedira karena memang keduanya lah yang seharusnya memperhatikan betul pergerakan pemain macam Puyol yang tiba-tiba muncul dari belakang.
-2010 07 08-
***agak kacau nih strukturnya. bae lah.
Monday, May 31, 2010
KRIMINALISASI TEMBAKAU
Di dunia, saat ini sedang gencar diwacanakan tentang bahaya tembakau dan produk-produk derivatifnya. Memang benar rokok adalah berbahaya jika dihisap. Tapi apakah tembakau memang sepenuhnya berbahaya dan harus dimusnahkan?
Mari kita lihat dulu dua ilustrasi berikut.
KRIMINALISASI GANJA
Jaman Majapahit, ujung tombak dalam sistem ekonomi dan pertahanan adalah kapal laut dan perahu bercadik. Perahu bercadik milik Majapahit terkenal dengan kecepatannya, sehingga disebutnya terbang di atas air. Perahu-perahu ini banyak digunakan oleh militer Majapahit untuk patroli di sekitar pulau-pulau yang dikuasasi oleh Majapahit. Begitu pula dengan kapal milik Majapahit; terkenal dengan kecepatannya. Salah satu hal yang menjadi faktor utama adalah Majapahit menggunakan serat ganja sebagai bahan untuk membuat kain. Nah, kain inilah yang digunakan oleh Majapahit di layar di perahu dan kapal. Karakteristik kain dari ganja adalah kuat dan ringan seperti sutra.
Tanaman ganja dibudidayakan untuk diekspor ke Eropa,Australia, Swiss, dan Selandia Baru.
Negara-negara tersebut melakukan riset yang mendalam untuk membuat ganja menjadi obat kanker, bahan kertas, sampo, sabun, minyak angin,minuman ringan, hingga bumbu masakan yang mempunyai khasiat baik bagi kesehatan.
Lagi-lagi, bahwa ganja dikampanyekan untuk dimusnahkan karena tidak baik untuk kesehatan jika dihisap, padahal ada manfaat-manfaat lain yang sangat besar artinya. Cara terbaik untuk mengalihkan orang mengkonsumsi ganja sebagai zat adiktif adalah dengan mempergunakan ganja untuk hal lain yang bermanfaat luas.
Kegunaan ganja lebih lengkap silahkan cek di:
http://legalisasiganja.blo
KRIMINALISASI KELAPA
Pada suatu masa (penulis kesulitan mendapatkan referensi) pernah kelapa dihabisi dan diganti kelapa sawit. Akhirnya ditemukan bahwa VCO (yang notabene dari tanaman kelapa) dan produk turunannya ternyata luar biasa nilai tambahnya.
Di Philipina, turunan dari produk tanaman kelapa lebih dari seratus. Di Indonesia produk turunan kelapa baru sekitar belasan. Tatkala produk VCO dan turunannya sudah mendunia, tanaman kelapa sudah sangat minim.
Manfaat kelapa bisa dilihat di link berikut:
http://en.wikipedia.org/wi
MANFAAT LAIN TEMBAKAU
Yang sering didengungkan oleh berbagai aktivis anti rokok adalah NO TOBACCO, bukan NO CIGARETTE. Hal ini tentu mengusik kita. Sudah menjadi pemahaman yang umum bahwa sesuatu yang sangat berbahaya, kemungkinan besar mempunyai manfaat yang besar pula.
Seperti halnya nuklir yang bisa digunakan sebagai sumber energi yang sangat besar, tembakau juga mempunyai manfaat yang sangat besar.
Manfaat tembakau antara lain :
1.Untuk melepas lintah yg sedang menempel di kulit manusia untuk menghisap darah, sementara yg diketahui "teknologi" untuk melepas lintah adalah dari air tembakau. Bisa disimpulkan dan diperkirakan bahwa di tembakau ada bahan2 farmasi yg belum sepenuhnya diketahui apa saja unsur2nya.
2.Pada unsur2 kimia yg ada di tembakau semisal nikotin dll, ditemukan ternyata dapat menjadi bahan anti karat pada besi tipe N80, yg biasa digunakan sebagai pipa minyak.
Lebih lengkap mengenai manfaat tembakau bisa dilihat di link berikut:
http://divinecigarette.com
dan
http://umarbadarsyah.wordp
Tembakau adalah aset . Kalau yg dipersoalkan adlh rokok dan dampaknya, ya jangan tembakaunya yg disalahkan.
Belum lagi kita perlu juga meninjau aspek ekonomis-nya jika secara tiba-tiba produksi rokok dihentikan. Ada ribuan orang yang akan kehilangan mata pencaharian jika industri rokok berhenti.
Cara paling baik adalah dengan inovasi penggunaan tembakau untuk hal yang bermanfaat, sehingga petani tembakau tetap bisa menanam tembakau, dan (setidaknya) tidak semua pekerja di pabrik rokok akan menganggur karena dialihkan ke industri yang baru.
CIGARETTE, NO. TOBACCO, YES.
Monday, May 24, 2010
Pendidikan Dalam Perspektif Pembangunan Ekonomi
Argumen pemerintah yang dikemukakan ketika membicarakan tentang mahalnya biaya pendidikan adalah adalah karena dengan terbatasnya anggaran, pemerintah juga harus memperhatikan sektor lain yang berkontribusi terhadap perekonomian, seperti pembangunan infrastruktur, dsb.
Jadi, hitung-hitungannya, dengan skema pembiayaan pendidikan seperti sekarang, menurut pemerintah akan lebih menguntungkan untuk pembangunan ekonomi.
Ketika memperbincangkan kemajuan ekonomi, akan memunculkan pertanyaan: dengan cara apa perekonomian negara Indonesia bisa berkembang sehingga bisa menjadi negara maju (advanced country)?
Jika mendapat pertanyaan seperti itu, maka saya akan menjawab: kuncinya adalah di pendidikan dan pemerintahan.
Kita bisa memperdebatkan sampai kepala pecah tentang apa mazhab ekonomi yang paling baik, apa kebijakan publik yang paling tepat, apa strategi perdagangan yang paling OK, dsb.
Program apapun, tanpa dukungan yang memadai dari kualitas manusia dan kualitas birokrasi, tidak akan sukses. Seperti halnya permainan sepakbola, strategi apapun tidak akan sukses tanpa pemain yang bagus dan fasilitas yang memadai.
Jeffresy Sachs (The End of Poverty, 2005) mengemukakan 6 buah faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu:
1. Inovasi.
2. Budaya (karakter sebuah bangsa).
3. Birokrasi.
4. Kondisi politik.
5. Modal.
6. Kondisi geografis.
Poin 1 & 2 adalah bagian dari pendidikan. Sedangkan poin 3 sampai 6 adalah bagian dari program dan kerja pemerintah.
Kita memang harus meninjau tentang sistem pendidikan seperti apa yang baik.
Kemudian kita harus meninjau lagi apakah benar negara ini tidak mempunyai uang untuk membiayai pendidikan; apakah pemerintah telah mengelola resource dan keuangan dengan baik.
Selain itu kita juga harus meninjau, apakah kesenjangan sosial, yang diakibatkan oleh mahalnya biaya pendidikan, selaras dengan tujuan negara tentang "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".
Pendidikan yang akan membuat sebuah negara menjadi negara maju adalah pendidikan yang membebaskan warganya; yang membuat warganya menjadi manusia dewasa, berani berinisiatif, berani berideologi dan berprinsip, dan berkarakter pemimpin; bukan pendidikan yang membuat warganya hanya bisa menghafal, pragmatis, memikirkan dirinya sendiri, dan membebek pada pemimpin mereka.
Pendidikan yang akan membuat sebuah negara menjadi negara maju adalah jika pendidikan bisa diserap oleh semua warganya, tanpa terkecuali.
Pemerintah mengatakan bahwa dana untuk pendidikan kurang, walaupun klaim ini dengan mudah dibantah karena manajemen yang kurang baik dalam mengelola anggaran yaitu terjadi mis-alokasi, pemborosan, dan kebocoran (dengan tingkat kebocoran sekitar 30%); belum lagi bila kita meninjau ulang jumlah resource yang dimiliki negara ini yang bisa kita manfaatkan dengan maksimal jika pengelolaannya baik; olehkarenanya jika resource dan keuangan negara dikelola dengan baik, masalah pendidikan yang mahal tidak perlu terjadi.
Selain itu juga perlu kiranya ditanamkan bahwa mengucurkan uang untuk pendidikan adalah masuk ke komponen investasi, bukan beban.
Ada yang mengatakan bahwa Indonesia menganut sistem liberal. Tentu ini memunculkan perdebatan karena dasar negara kita, yaitu UUD dan Pancasila, tidak menghendaki sistem liberal.
Tapi untuk sistem liberal pun, Indonesia tidak akan sukses, karena syarat mutlak suksesnya sistem liberal adalah semua orang mempunyai "fasilitas" yang sama untuk berkompetisi dan bersaing. Sistem liberal tanpa kesetaraan kemampuan untuk bersaing hanya akan mengakibatkan kesenjangan sosial. Dan kesenjangan sosial, yang bisa diakibatkan dari mahalnya biaya sekolah, adalah musuh keseimbangan dan juga musuh kemanusiaan.
Pertumbuhan adalah penting, dimana pertumbuhan ekonomi di sebuah negara bisa dicapai walaupun kegiatan ekonomi hanya dilakukan oleh segelintir orang.
Akan tetapi kita harus ingat bahwa dunia berjalan dengan satu aturan, yaitu aturan keseimbangan.
Jika keseimbangan terabaikan, maka cepat atau lambat, tatanan yang dibangun akan runtuh.
Tentu kita tidak sedang membicarakan negara kita bisa berkembang dengan pertumbuhan yang tinggi kemudian runtuh karena ada tatanan yang tidak seimbang, seperti ambruk karena subprime mortgage di US atau runtuh karena kesenjangan sosial dan pemerintahan diktator seperti di Indonesia tahun 1998.
Ini adalah tentang pertumbuhan yang tanpa melupakan tentang sustainability dan keadilan sosial.
Bayangkan betapa majunya sebuah negara jika negara yang mempunyai resource sedemikian besar seperti Indonesia; dimana semua warganya berkompetisi dengan kepandaiannya, inisiatifnya yang tinggi, dan prinsip hidup yang dijunjungnya; ditambah lagi pemerintahnya yang selalu siap siaga memberikan dukungan dengan berbagai kebijakan yang efektif dan efisien, serta birokrasi yang profesional dalam membangun lingkungan yang kondusif untuk riset, inovasi, dan entrepreneurship, tentu tanpa melupakan unsur keadilan sosial untuk seluruh warganya.
Demi kesejahteraan yang berlandaskan keadilan sosial, pendidikan di Indonesia semestinya bisa dijangkau oleh semua warganya, tanpa kecuali; karena negara ini bisa dan MAMPU.
salam,
Jadi, hitung-hitungannya, dengan skema pembiayaan pendidikan seperti sekarang, menurut pemerintah akan lebih menguntungkan untuk pembangunan ekonomi.
Ketika memperbincangkan kemajuan ekonomi, akan memunculkan pertanyaan: dengan cara apa perekonomian negara Indonesia bisa berkembang sehingga bisa menjadi negara maju (advanced country)?
Jika mendapat pertanyaan seperti itu, maka saya akan menjawab: kuncinya adalah di pendidikan dan pemerintahan.
Kita bisa memperdebatkan sampai kepala pecah tentang apa mazhab ekonomi yang paling baik, apa kebijakan publik yang paling tepat, apa strategi perdagangan yang paling OK, dsb.
Program apapun, tanpa dukungan yang memadai dari kualitas manusia dan kualitas birokrasi, tidak akan sukses. Seperti halnya permainan sepakbola, strategi apapun tidak akan sukses tanpa pemain yang bagus dan fasilitas yang memadai.
Jeffresy Sachs (The End of Poverty, 2005) mengemukakan 6 buah faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu:
1. Inovasi.
2. Budaya (karakter sebuah bangsa).
3. Birokrasi.
4. Kondisi politik.
5. Modal.
6. Kondisi geografis.
Poin 1 & 2 adalah bagian dari pendidikan. Sedangkan poin 3 sampai 6 adalah bagian dari program dan kerja pemerintah.
Kita memang harus meninjau tentang sistem pendidikan seperti apa yang baik.
Kemudian kita harus meninjau lagi apakah benar negara ini tidak mempunyai uang untuk membiayai pendidikan; apakah pemerintah telah mengelola resource dan keuangan dengan baik.
Selain itu kita juga harus meninjau, apakah kesenjangan sosial, yang diakibatkan oleh mahalnya biaya pendidikan, selaras dengan tujuan negara tentang "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".
Pendidikan yang akan membuat sebuah negara menjadi negara maju adalah pendidikan yang membebaskan warganya; yang membuat warganya menjadi manusia dewasa, berani berinisiatif, berani berideologi dan berprinsip, dan berkarakter pemimpin; bukan pendidikan yang membuat warganya hanya bisa menghafal, pragmatis, memikirkan dirinya sendiri, dan membebek pada pemimpin mereka.
Pendidikan yang akan membuat sebuah negara menjadi negara maju adalah jika pendidikan bisa diserap oleh semua warganya, tanpa terkecuali.
Pemerintah mengatakan bahwa dana untuk pendidikan kurang, walaupun klaim ini dengan mudah dibantah karena manajemen yang kurang baik dalam mengelola anggaran yaitu terjadi mis-alokasi, pemborosan, dan kebocoran (dengan tingkat kebocoran sekitar 30%); belum lagi bila kita meninjau ulang jumlah resource yang dimiliki negara ini yang bisa kita manfaatkan dengan maksimal jika pengelolaannya baik; olehkarenanya jika resource dan keuangan negara dikelola dengan baik, masalah pendidikan yang mahal tidak perlu terjadi.
Selain itu juga perlu kiranya ditanamkan bahwa mengucurkan uang untuk pendidikan adalah masuk ke komponen investasi, bukan beban.
Ada yang mengatakan bahwa Indonesia menganut sistem liberal. Tentu ini memunculkan perdebatan karena dasar negara kita, yaitu UUD dan Pancasila, tidak menghendaki sistem liberal.
Tapi untuk sistem liberal pun, Indonesia tidak akan sukses, karena syarat mutlak suksesnya sistem liberal adalah semua orang mempunyai "fasilitas" yang sama untuk berkompetisi dan bersaing. Sistem liberal tanpa kesetaraan kemampuan untuk bersaing hanya akan mengakibatkan kesenjangan sosial. Dan kesenjangan sosial, yang bisa diakibatkan dari mahalnya biaya sekolah, adalah musuh keseimbangan dan juga musuh kemanusiaan.
Pertumbuhan adalah penting, dimana pertumbuhan ekonomi di sebuah negara bisa dicapai walaupun kegiatan ekonomi hanya dilakukan oleh segelintir orang.
Akan tetapi kita harus ingat bahwa dunia berjalan dengan satu aturan, yaitu aturan keseimbangan.
Jika keseimbangan terabaikan, maka cepat atau lambat, tatanan yang dibangun akan runtuh.
Tentu kita tidak sedang membicarakan negara kita bisa berkembang dengan pertumbuhan yang tinggi kemudian runtuh karena ada tatanan yang tidak seimbang, seperti ambruk karena subprime mortgage di US atau runtuh karena kesenjangan sosial dan pemerintahan diktator seperti di Indonesia tahun 1998.
Ini adalah tentang pertumbuhan yang tanpa melupakan tentang sustainability dan keadilan sosial.
Bayangkan betapa majunya sebuah negara jika negara yang mempunyai resource sedemikian besar seperti Indonesia; dimana semua warganya berkompetisi dengan kepandaiannya, inisiatifnya yang tinggi, dan prinsip hidup yang dijunjungnya; ditambah lagi pemerintahnya yang selalu siap siaga memberikan dukungan dengan berbagai kebijakan yang efektif dan efisien, serta birokrasi yang profesional dalam membangun lingkungan yang kondusif untuk riset, inovasi, dan entrepreneurship, tentu tanpa melupakan unsur keadilan sosial untuk seluruh warganya.
Demi kesejahteraan yang berlandaskan keadilan sosial, pendidikan di Indonesia semestinya bisa dijangkau oleh semua warganya, tanpa kecuali; karena negara ini bisa dan MAMPU.
salam,
Saturday, May 22, 2010
Just Curious,,,
Manusia mempunyai organ-organ tubuh yang menunjang kelangsungan hidupnya. Organ-organ ini mempunyai tugas yang spesifik dan berkoordinasi secara sempurna.
Untuk bisa hidup secara nyaman secara fisik, manusia hidup berdasarkan dua aturan.
Aturan pertama adalah, manusia hidup berdasarkan range tertentu.
Misalnya, dalam hal suhu udara, manusia yang terbiasa hidup di lingkungan tropis (panas) akan mengalami kesulitan hidup di lingkungan dingin seperti eropa saat musim dingin atau kutub utara. Yang lain lagi, dalam hal mengangkat beban; seseorang yang kurang berlatih atau beraktifitas mengangkat beban, akan kesulitan mengangkat beban, walaupun mungkin hanya 30kg atau 40kg. Juga orang yang jarang berlatih akan kesulitan jika harus bermain sepakbola 2 x 45 menit. Bagi mereka yang terbiasa hidup di kota dengan segala fasilitas yang ada pasti akan kesulitan jika tiba-tiba harus hidup di hutan tanpa persiapan mental dan skill yang cukup. Contoh-contoh ini membuktikan bahwa manusia hidup pada range tertentu.
Range ini dipengaruhi terutama oleh kebiasaan kita. Ya kebiasaan. Kita pasti pernah atau bahkan sering mendengar atau membaca bahwa awalnya kita yang membentuk kebiasaan, dan kemudian kebiasaan itu yang akan membentuk kita.
Aturan kedua adalah, manusia adalah makhluk yang sangat pandai beradaptasi.
Manusia bisa hidup dari lingkungan yang paling dingin di daerah kutub utara, sampai ke lingkungan paling panas di gurung Sahara. Manusia bisa hidup dari yang hampir tidak pernah olahraga sehingga obesitas, sampai yang hidupnya selalu dipenuhi aktifitas mengangkut beban macam kuli angkut di pelabuhan dan pasar. Manusia bisa hidup di daerah pantai yang panas dan lembab, dan juga di daerah pegunungan seperti Tibet yang kering dan dingin. Artinya, bahwa manusia bisa hidup di manapun karena pandai beradaptasi. Jika hewan hanya mengandalkan insting dan "fasilitas" di fisiknya seperti bulu, maka manusia bisa menyelesaikan masalahnya menggunakan akal dan kreativitasnya.
Pertanyaan pertama, apakah manusia bisa hidup di kedua lingkungan yang ekstrim?
Jawabnya adalah bisa, tentu dengan periode adaptasi tertentu. Orang yang terbiasa hidup di lingkungan tropis akan membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di Rusia yang dingin dan kering. Begitu pula dengan orang eskimo, pasti shock begitu ditaruh di gurun Sahara.
Proses adaptasi membutuhkan perjuangan. Kadang disertai rasa sakit, baik fisik maupun mental. Tetapi bukan berarti tidak bisa.
Proses adaptasi yang lebih mudah dilakukan adalah jika beralih dari lingkungan yang "kurang nyaman", ke lingkungan yang "lebih nyaman". Misalnya dari lingkungan Afrika yang panas & kering, ke lingkungan tropis yang lebih sejuk dan basah semacam Indonesia. Atau misalnya dari daerah kumuh dan penuh kriminal di Honduras, pindah ke California yang jauh lebih teratur dan bersih.
Nah, ini memunculkan pertanyaan kedua, jika manusia sudah mencapai keadaan nyamannya di daerah yang lebih nyaman seperti contoh di atas yaitu di Indonesia dan California, apakah ia masih punya "sense" terhadap lingkungan yang lama?
Maksudnya adalah, apakah ia akan dengan mudah juga untuk kembali hidup di lingkungan yang lama? Tentu ini debatable, tapi besar kemungkinan ia akan mengalami kesakitan yang luar biasa ketika harus kembali ke habitatnya yang lama.
Artinya adalah, bahwa ketika sudah mencapai kenyamanan pada level yang tinggi, akan susah bagi seseorang untuk kembali menjalani hidup ke level rendah, walaupun dulu pernah hidup di level tersebut. Hal ini bisa berarti susah dalam artian tubuh akan menolak, maupun kemauan tidak ada lagi.
Dari uraian di atas, bisa kiranya kita tarik kesimpulan yaitu seseorang akan mengerti betul bagaimana keadaan sebuah lingkungan jika ia tinggal di dalamnya. Orang Indonesia akan sangat mengerti tentang bagaimana lingkungan tropis dibanding orang eropa atau orang korea misalnya. Orang Afrika jauh lebih mengerti tentang mensiasati lingkungan yang ganas di sekitar mereka dibanding siapapun di dunia ini.
Tentu orang kutub utara akan susah diajak ngobrol tentang ganasnya lingkungan Afrika; orang Indonesia yang mengeluh tentang cuaca pasti akan bersyukur bahwa negeri ini sangat ramah terhadap manusia kalau diajak ke kutub utara yang dingin; begitu juga orang yang tinggal nyaman di Bali tidak akan "mudeng" kalau diajak ngobrol tentang susahnya hidup sebagai orang Papua. Orang yang hanya bisa bermain catur yang membutuhkan pikiran, pasti kesulitan jika diajak bermain bola yang memerlukan kemampuan fisik; begitu juga jika seseorang yang hanya memainkan basket, ia akan linglung kalau ditantang catur.
Dan kemudian akan sampai pada pertanyaan berikutnya.
Jika seseorang telah beralih ke lingkungan yang jauh lebih nyaman, akankah ia tetap bisa "mengerti" beratnya hidup di lingkungan yang lalu?
Maksudnya bukan hanya mengerti ia mengetahui, tetapi ia mempunyai empati.
Jawabannya bisa 2 macam.
Ada orang yang migrasi ke California kemudian lupa bagaimana rasanya tinggal di Honduras yang kumuh, miskin, dan penuh dengan kriminalitas. Untuk membantu saudaranya dan masyarakatnya di tempat asal, kecil kemungkinan ia akan melepaskan kenyamanan hidupnya di California dan kemudian berkarya di Honduras. Kemungkinan paling besar adalah ia mengirimkan sejumlah uang dan hadiah kepada saudara-saudaranya. Apakah saudara-saudara kandungnya cukup bahagia dengan uang kiriman tersebut, dan apakah ia bisa membantu tetangga-tetangganya yang lain, itu akan segera dilupakannya karena yang penting baginya adalah ia tetap nyaman dan tetap bisa membantu. Tidak peduli apakah bantuannya bermanfaat maksimal atau tidak.
Akan tetapi ada juga orang yang tetap menjaga agar dirinya tidak terlena di lingkungan yang nyaman, ia akan tetap bisa "merasakan" betapa tidak enaknya lingkungan yang dulu pernah ia hadapi. Dan orang seperti ini akan berusaha memperbaiki lingkungan yang tidak nyaman tersebut, atau mengajak saudara-saudaranya atau orang-orang yang pernah dikenalnya ke lingkungan yang lebih nyaman.
Orang ini, walaupun tinggal di lingkungan yang enak, ia tidak terlena dengan melalaikan latihan fisik, ia tidak terlena bermewah-mewahan dan menjauhkan dirinya dari kesederhanaan hidup.
Ketika ia tinggal di California, tidak hanya mengirimkan uang dan hadiah ke Honduras, tetapi ia juga mengorbankan kenyamanan hidupnya dengan menabung dan kembali ke tanah kelahirannya untuk memperbaiki keadaan.
Orang ini, adalah orang yang bisa menjaga nuraninya; ia tidak melupakan jasa sang angin ketika ia sudah bisa terbang.
Dari uraian bahwa manusia hidup dalam range tertentu dan manusia pandai beradaptasi, akhirnya kita sampai pada pertanyaan terakhir dan inti dari tulisan ini:
Jika seseorang mengaku (sampai sekarang masih) peduli pada kemiskinan dan kebodohan, tetapi terus-terusan enggan menanggalkan baju mewahnya, apakah ia jujur dan bukan sedang berfantasi?
Wallahu'alam.
-ismail-
Untuk bisa hidup secara nyaman secara fisik, manusia hidup berdasarkan dua aturan.
Aturan pertama adalah, manusia hidup berdasarkan range tertentu.
Misalnya, dalam hal suhu udara, manusia yang terbiasa hidup di lingkungan tropis (panas) akan mengalami kesulitan hidup di lingkungan dingin seperti eropa saat musim dingin atau kutub utara. Yang lain lagi, dalam hal mengangkat beban; seseorang yang kurang berlatih atau beraktifitas mengangkat beban, akan kesulitan mengangkat beban, walaupun mungkin hanya 30kg atau 40kg. Juga orang yang jarang berlatih akan kesulitan jika harus bermain sepakbola 2 x 45 menit. Bagi mereka yang terbiasa hidup di kota dengan segala fasilitas yang ada pasti akan kesulitan jika tiba-tiba harus hidup di hutan tanpa persiapan mental dan skill yang cukup. Contoh-contoh ini membuktikan bahwa manusia hidup pada range tertentu.
Range ini dipengaruhi terutama oleh kebiasaan kita. Ya kebiasaan. Kita pasti pernah atau bahkan sering mendengar atau membaca bahwa awalnya kita yang membentuk kebiasaan, dan kemudian kebiasaan itu yang akan membentuk kita.
Aturan kedua adalah, manusia adalah makhluk yang sangat pandai beradaptasi.
Manusia bisa hidup dari lingkungan yang paling dingin di daerah kutub utara, sampai ke lingkungan paling panas di gurung Sahara. Manusia bisa hidup dari yang hampir tidak pernah olahraga sehingga obesitas, sampai yang hidupnya selalu dipenuhi aktifitas mengangkut beban macam kuli angkut di pelabuhan dan pasar. Manusia bisa hidup di daerah pantai yang panas dan lembab, dan juga di daerah pegunungan seperti Tibet yang kering dan dingin. Artinya, bahwa manusia bisa hidup di manapun karena pandai beradaptasi. Jika hewan hanya mengandalkan insting dan "fasilitas" di fisiknya seperti bulu, maka manusia bisa menyelesaikan masalahnya menggunakan akal dan kreativitasnya.
Pertanyaan pertama, apakah manusia bisa hidup di kedua lingkungan yang ekstrim?
Jawabnya adalah bisa, tentu dengan periode adaptasi tertentu. Orang yang terbiasa hidup di lingkungan tropis akan membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di Rusia yang dingin dan kering. Begitu pula dengan orang eskimo, pasti shock begitu ditaruh di gurun Sahara.
Proses adaptasi membutuhkan perjuangan. Kadang disertai rasa sakit, baik fisik maupun mental. Tetapi bukan berarti tidak bisa.
Proses adaptasi yang lebih mudah dilakukan adalah jika beralih dari lingkungan yang "kurang nyaman", ke lingkungan yang "lebih nyaman". Misalnya dari lingkungan Afrika yang panas & kering, ke lingkungan tropis yang lebih sejuk dan basah semacam Indonesia. Atau misalnya dari daerah kumuh dan penuh kriminal di Honduras, pindah ke California yang jauh lebih teratur dan bersih.
Nah, ini memunculkan pertanyaan kedua, jika manusia sudah mencapai keadaan nyamannya di daerah yang lebih nyaman seperti contoh di atas yaitu di Indonesia dan California, apakah ia masih punya "sense" terhadap lingkungan yang lama?
Maksudnya adalah, apakah ia akan dengan mudah juga untuk kembali hidup di lingkungan yang lama? Tentu ini debatable, tapi besar kemungkinan ia akan mengalami kesakitan yang luar biasa ketika harus kembali ke habitatnya yang lama.
Artinya adalah, bahwa ketika sudah mencapai kenyamanan pada level yang tinggi, akan susah bagi seseorang untuk kembali menjalani hidup ke level rendah, walaupun dulu pernah hidup di level tersebut. Hal ini bisa berarti susah dalam artian tubuh akan menolak, maupun kemauan tidak ada lagi.
Dari uraian di atas, bisa kiranya kita tarik kesimpulan yaitu seseorang akan mengerti betul bagaimana keadaan sebuah lingkungan jika ia tinggal di dalamnya. Orang Indonesia akan sangat mengerti tentang bagaimana lingkungan tropis dibanding orang eropa atau orang korea misalnya. Orang Afrika jauh lebih mengerti tentang mensiasati lingkungan yang ganas di sekitar mereka dibanding siapapun di dunia ini.
Tentu orang kutub utara akan susah diajak ngobrol tentang ganasnya lingkungan Afrika; orang Indonesia yang mengeluh tentang cuaca pasti akan bersyukur bahwa negeri ini sangat ramah terhadap manusia kalau diajak ke kutub utara yang dingin; begitu juga orang yang tinggal nyaman di Bali tidak akan "mudeng" kalau diajak ngobrol tentang susahnya hidup sebagai orang Papua. Orang yang hanya bisa bermain catur yang membutuhkan pikiran, pasti kesulitan jika diajak bermain bola yang memerlukan kemampuan fisik; begitu juga jika seseorang yang hanya memainkan basket, ia akan linglung kalau ditantang catur.
Dan kemudian akan sampai pada pertanyaan berikutnya.
Jika seseorang telah beralih ke lingkungan yang jauh lebih nyaman, akankah ia tetap bisa "mengerti" beratnya hidup di lingkungan yang lalu?
Maksudnya bukan hanya mengerti ia mengetahui, tetapi ia mempunyai empati.
Jawabannya bisa 2 macam.
Ada orang yang migrasi ke California kemudian lupa bagaimana rasanya tinggal di Honduras yang kumuh, miskin, dan penuh dengan kriminalitas. Untuk membantu saudaranya dan masyarakatnya di tempat asal, kecil kemungkinan ia akan melepaskan kenyamanan hidupnya di California dan kemudian berkarya di Honduras. Kemungkinan paling besar adalah ia mengirimkan sejumlah uang dan hadiah kepada saudara-saudaranya. Apakah saudara-saudara kandungnya cukup bahagia dengan uang kiriman tersebut, dan apakah ia bisa membantu tetangga-tetangganya yang lain, itu akan segera dilupakannya karena yang penting baginya adalah ia tetap nyaman dan tetap bisa membantu. Tidak peduli apakah bantuannya bermanfaat maksimal atau tidak.
Akan tetapi ada juga orang yang tetap menjaga agar dirinya tidak terlena di lingkungan yang nyaman, ia akan tetap bisa "merasakan" betapa tidak enaknya lingkungan yang dulu pernah ia hadapi. Dan orang seperti ini akan berusaha memperbaiki lingkungan yang tidak nyaman tersebut, atau mengajak saudara-saudaranya atau orang-orang yang pernah dikenalnya ke lingkungan yang lebih nyaman.
Orang ini, walaupun tinggal di lingkungan yang enak, ia tidak terlena dengan melalaikan latihan fisik, ia tidak terlena bermewah-mewahan dan menjauhkan dirinya dari kesederhanaan hidup.
Ketika ia tinggal di California, tidak hanya mengirimkan uang dan hadiah ke Honduras, tetapi ia juga mengorbankan kenyamanan hidupnya dengan menabung dan kembali ke tanah kelahirannya untuk memperbaiki keadaan.
Orang ini, adalah orang yang bisa menjaga nuraninya; ia tidak melupakan jasa sang angin ketika ia sudah bisa terbang.
Dari uraian bahwa manusia hidup dalam range tertentu dan manusia pandai beradaptasi, akhirnya kita sampai pada pertanyaan terakhir dan inti dari tulisan ini:
Jika seseorang mengaku (sampai sekarang masih) peduli pada kemiskinan dan kebodohan, tetapi terus-terusan enggan menanggalkan baju mewahnya, apakah ia jujur dan bukan sedang berfantasi?
Wallahu'alam.
-ismail-
Thursday, May 20, 2010
Ideologi Parpol; Masihkah Relevan?
Memperbincangkan ideologi, untuk saya, selalu menarik. Walaupun banyak yang mengatakan bahwa ideologi adalah kuno.
Definisi;
An ideology is a set of ideas that discusses one's goals, expectations, and actions.
A political ideology is a certain ethical set of ideals, principles, doctrines, myths, or symbols of a social movement, institution, class, and or large group that explains how society should work, and offers some political and cultural blueprint for a certain social order.
Hatta pernah menulis, bahwa demokrasi adalah tentang kedewasaan berpikir dan bertindak, bukan tentang kebebasan. Lebih lanjut, Hatta berpendapat bahwa politik adalah panggung untuk memperjuangkan ideologi yang diyakini dalam membangun sebuah masyarakat (society?).
Sedangkan yang sekarang terjadi adalah, sebagian besar parpol tidak jelas mengusung ideologi apa.
Parpol yang seharusnya menjadi salah satu pagar dalam menjaga nilai, malah menjadi sekedar mesin pengumpul suara, tanpa peduli lagi nilai-nilai seperti apa yang diusung dan kader partai seperti apa yang ingin dibentuk. Kabar tentang jupe dan maria eva akan dicalonkan menjadi pemimpin daerah adalah bukti atas hal ini.
Wajar jika ketika pemilu parpol lebih banyak bersuara tentang rakyat dan banyak yang "mengunjungi" rakyat, karena itulah yang efektif untuk mendulang suara. Dan ketika pemilu selesai, maka dimulailah episode sinetron dengan rakyat menjadi penonton atas tingkah polah para politisi berebut kuasa untuk diri mereka sendiri.
Partai berbasis massa memang cenderung mengedepankan image karena memang efektif untuk meraup suara. Seperti PNI dengan soekarno yang dicintai rakyatnya, dan yang paling baru adalah PD dengan SBY yang santun.
Sedangkan partai kader, cenderung mengedepankan ideologi. seperti Sutan Sjahrir dengan Partai Sosialis Indonesia (dengan beberapa tokoh PSI yang dikenal, seperti Subadio Sastrosastomo, Sutan Takdir Alisyahbana, Prof Sarbini Somawinata, Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo, dan Mochtar Lubis), dan mungkin sekarang bentuk partai kader ini sedang diperjuangkan oleh PKS. Partai kader mempunyai sistem nilai tertentu dan setiap orang yang ingin bergabung menjadi kader harus melewati tahapan rekrutmen. Di satu sisi partai kader ini sangat ideal, yaitu sebagai institusi penjaga nilai; akan tetapi, di sisi yang lain, kurang bisa menjadi mesin peraup suara.
Jadi, ketika kita komplain atas tindakan politisi atau parpol yang menurut kita "kurang berkenan", sebenarnya salah sasaran. Karena sejak awal memang sebagian besar parpol tidak memiliki sistem nilai. Mungkin kita saja yang sebenarnya naif, bahwa politik adalah tentang memperjuangkan nilai-nilai. Padahal mungkin mereka yang duduk dan berdiri disana hanya berpikir tentang kepentingan dirinya. Kejadian Bu SM, yang beberapa bulan sebelumnya dikatakan oleh SBY bahwa Bu SM adalah menteri favoritnya, "dipindah" ke WB, mengindikasikan hal ini.
Agak masuk akal jika kita komplain karena misalnya PDIP yang mendeklarasikan bahwa partainya adalah partai kerakyatan, ternyata lebih terlihat memperjuangkan kaum elit. Atau misalnya kita komplain atas kader PKS yang mendeklarasikan dirinya partai Islam, ternyata mempunyai masalah dengan perilaku kadernya.
Akan tetapi jika PD atau Golkar misalnya terkesan lebih peduli dengan kehidupan para penyandang dana kampanye mereka, apa yang akan kita komplain menjadi tidak relevan karena kita tidak jelas mengetahui bagaimana parpol tersebut "berpikir".
Menarik jika kita membaca tentang Amartya Sen yang mengusung ide corective justice. Memang faktanya tidak ada ideologi yang menjamin bahwa sistemnya akan benar-benar adil. Tetapi ide corective justice menurut saya tidak bertentangan dengan adanya ideologi.
Ideologi akan membuat seseorang atau institusi mempunyai pegangan, sehingga akan ada konsistensi dalam berpikir dan bertindak. Sedangkan corective justice, akan membuat seseorang atau institusi senantiasa mengoreksi dan memperbaiki ideologi yang mereka usung sehingga bisa cukup aplicable dalam mewujudkan cita-cita bersama, yaitu masyarakat yang adil.
*just my two cents.
salam,
ismail
Definisi;
An ideology is a set of ideas that discusses one's goals, expectations, and actions.
A political ideology is a certain ethical set of ideals, principles, doctrines, myths, or symbols of a social movement, institution, class, and or large group that explains how society should work, and offers some political and cultural blueprint for a certain social order.
Hatta pernah menulis, bahwa demokrasi adalah tentang kedewasaan berpikir dan bertindak, bukan tentang kebebasan. Lebih lanjut, Hatta berpendapat bahwa politik adalah panggung untuk memperjuangkan ideologi yang diyakini dalam membangun sebuah masyarakat (society?).
Sedangkan yang sekarang terjadi adalah, sebagian besar parpol tidak jelas mengusung ideologi apa.
Parpol yang seharusnya menjadi salah satu pagar dalam menjaga nilai, malah menjadi sekedar mesin pengumpul suara, tanpa peduli lagi nilai-nilai seperti apa yang diusung dan kader partai seperti apa yang ingin dibentuk. Kabar tentang jupe dan maria eva akan dicalonkan menjadi pemimpin daerah adalah bukti atas hal ini.
Wajar jika ketika pemilu parpol lebih banyak bersuara tentang rakyat dan banyak yang "mengunjungi" rakyat, karena itulah yang efektif untuk mendulang suara. Dan ketika pemilu selesai, maka dimulailah episode sinetron dengan rakyat menjadi penonton atas tingkah polah para politisi berebut kuasa untuk diri mereka sendiri.
Partai berbasis massa memang cenderung mengedepankan image karena memang efektif untuk meraup suara. Seperti PNI dengan soekarno yang dicintai rakyatnya, dan yang paling baru adalah PD dengan SBY yang santun.
Sedangkan partai kader, cenderung mengedepankan ideologi. seperti Sutan Sjahrir dengan Partai Sosialis Indonesia (dengan beberapa tokoh PSI yang dikenal, seperti Subadio Sastrosastomo, Sutan Takdir Alisyahbana, Prof Sarbini Somawinata, Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo, dan Mochtar Lubis), dan mungkin sekarang bentuk partai kader ini sedang diperjuangkan oleh PKS. Partai kader mempunyai sistem nilai tertentu dan setiap orang yang ingin bergabung menjadi kader harus melewati tahapan rekrutmen. Di satu sisi partai kader ini sangat ideal, yaitu sebagai institusi penjaga nilai; akan tetapi, di sisi yang lain, kurang bisa menjadi mesin peraup suara.
Jadi, ketika kita komplain atas tindakan politisi atau parpol yang menurut kita "kurang berkenan", sebenarnya salah sasaran. Karena sejak awal memang sebagian besar parpol tidak memiliki sistem nilai. Mungkin kita saja yang sebenarnya naif, bahwa politik adalah tentang memperjuangkan nilai-nilai. Padahal mungkin mereka yang duduk dan berdiri disana hanya berpikir tentang kepentingan dirinya. Kejadian Bu SM, yang beberapa bulan sebelumnya dikatakan oleh SBY bahwa Bu SM adalah menteri favoritnya, "dipindah" ke WB, mengindikasikan hal ini.
Agak masuk akal jika kita komplain karena misalnya PDIP yang mendeklarasikan bahwa partainya adalah partai kerakyatan, ternyata lebih terlihat memperjuangkan kaum elit. Atau misalnya kita komplain atas kader PKS yang mendeklarasikan dirinya partai Islam, ternyata mempunyai masalah dengan perilaku kadernya.
Akan tetapi jika PD atau Golkar misalnya terkesan lebih peduli dengan kehidupan para penyandang dana kampanye mereka, apa yang akan kita komplain menjadi tidak relevan karena kita tidak jelas mengetahui bagaimana parpol tersebut "berpikir".
Menarik jika kita membaca tentang Amartya Sen yang mengusung ide corective justice. Memang faktanya tidak ada ideologi yang menjamin bahwa sistemnya akan benar-benar adil. Tetapi ide corective justice menurut saya tidak bertentangan dengan adanya ideologi.
Ideologi akan membuat seseorang atau institusi mempunyai pegangan, sehingga akan ada konsistensi dalam berpikir dan bertindak. Sedangkan corective justice, akan membuat seseorang atau institusi senantiasa mengoreksi dan memperbaiki ideologi yang mereka usung sehingga bisa cukup aplicable dalam mewujudkan cita-cita bersama, yaitu masyarakat yang adil.
*just my two cents.
salam,
ismail
Subscribe to:
Posts (Atom)