Friday, March 07, 2014

Walk Your Feet, Calm Your Mind


Sumber

Awalnya saya mengira cuma saya aja yang suka jalan kaki, bukan hanya karena alasan kesehatan, tapi juga agar makin lancar mendapatkan inspirasi. Eh ternyata tulisan di hbr ini juga mengupas yang sama. Salah satu paragraf di situ:
But we’re wrong to think of walking only as a way to calm the mind, a source of exercise, or as a leisurely luxury. When it comes to work, walking can dramatically increase productivity. In a very real sense, walking can be work, and work can be done while walking. In fact, some of the most important work you may ever do can be done walking.
Intinya, selain menyehatkan, berjalan kaki bisa membuat kita semakin fokus dengan apa yang dijalani sekaligus situasi pikiran jadi rileks. Itu lah kenapa berjalan kaki bagi sebagian orang menjadi sarana untuk mencari inspirasi.

Selain berjalan kaki, bersepeda dan jogging juga bagus untuk kesehatan badan dan pikiran. Kebetulan saya hampir tiap hari bersepeda, dan tentang menjernihkan pikiran ini betul. Sementara kalo jogging saya jarang sih, males.

P.s.: Saat saya menulis ini, jadi pengen beli sepatu Hummel. Tampilannya formal dan kasual, enak buat jalan kaki, dan awet. Tapi mahal. *distracted*


Antara Passion Dan Mission

Sekitar 5 tahun belakangan ini kata passion jadi trending. Motivator-motivator lah yang menyebarkan istilah ini sedemikian rupa sehingga terdengar sangat seksi. Betapa tidak, di tengah erangan orang-orang yang tidak bahagia atas pekerjaan (dan hidup mereka), tawaran untuk bekerja atas sesuatu yang disukai adalah sangat menggiurkan.

Bayangkan jika Anda bisa melakukan sesuatu yang Anda sukai. Anda enjoy melakukannya, bisa berprestasi (excellent), terasa mudah menghadapi berbagai tantangan di dalamnya (easy), dan bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan besar (earn). Istilah Easy, Enjoy, Excellent, Earn ini dipopulerkan oleh Abah Rama di leadpro.temubakat.com. Kalo Anda bisa mencapai 4E tersebut hidup akan indah, bukan? Iya, karena pekerjaan tidak lagi membuat susah tidur setiap Minggu malam dan tiap Senin pagi tidak lagi terasa bagai siksaan tiada akhir.

Tapi apakah passion, seperti yang tertuang dalam 4E, itu saja cukup? Mari kita tinjau kisah di bawah ini.

Thursday, March 06, 2014

Geuleuh

Setelah sekian lama ga menjenguk blog sendiri, lalu saya iseng baca-baca lagi tulisan yang dulu-dulu.
Eh kok geuleuh ya. *delete ah beberapa*
=))

Update Dikit

Udah lama blog ini ga dijenguk.
Sedikit update, sekarang lagi kuliah di Studi Pembangunan, ngerjain tesis tentang inovasi.
Majalah Energi udah tutup, sekarang lagi bikin proyek di https://twitter.com/itbmagz bareng Humas Rektorat ITB.
Selain itu, saya juga lagi menyusun sebuah buku yang harus terbit Juli tahun ini.

"Ngeblognya" pindah ke media cetak.

Wednesday, February 06, 2013

5 Tes Kebenaran

"Gw bener ngga ya melakukan ini?" Sering kali saya mendapatkan pertanyaan seperti itu dari teman. Biasanya pertanyaan tersebut terlontar kala dia ragu apakah apa yang dilakukannya benar atau tidak. Well, sebenarnya ada 5 pertanyaan untuk mengetahui apa yang kita lakukan itu benar atau tidak. Apa itu? Mari lihat satu per satu.

1. RESIPROKAL
Cara paling mudah untuk mengetahui apakah kita melakukan hal yang baik atau tidak adalah dengan bertanya, "Apakah saya mau jika diperlakukan seperti ini?" Jika Anda menjawab "mau," maka tindakan tersebut bisa diteruskan. Tapi ini bukan satu-satunya tes. Masih ada 4 tes berikutnya.

2. TRANSPARANSI
Ada yang berkata bahwa esensi dari tindakan yang buruk adalah tindakan yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.  Coba Anda bertanya, "Jika semua orang tahu apa yang saya lakukan, apakah saya akan baik-baik saja atau malu?"
Semua orang di sini bisa berarti teman-teman Anda, keluarga, pacar, pasangan, dosen, atasan, tetangga, dan lain-lain yang terkait.
Dan, kata "tahu" bisa berarti mengetahui dengan detail apa isi percakapan Anda, teks di folder pesan ponsel, setiap tindak-tanduk, dan apa yang ada di hati Anda.
Jika Anda memang sudah bersikap baik sejak di dalam hati, maka Anda tidak perlu khawatir jika orang lain tahu, bukan?!

Monday, March 07, 2011

Kemandirian Ekonomi Bersama Imajinasi

"Innovation is the central issue in economic prosperity"
Michael Porter (Harvard University Professor)


Krisis energi berada di depan mata. Krisis ini bukan hanya soal ketersediaan energi, akan tetapi juga mengenai akibat yang harus ditanggung dari pola pemenuhan dan penggunaan energi. Pemenuhan energi yang ditopang oleh energi fosil selama beberapa dekade terakhir menyebabkan perubahan iklim di bumi. Untuk kasus Indonesia, krisis energi menyangkut pula soal masih cukup besarnya jumlah warga yang belum menikmati listrik. Masalahnya, jika melihat ke negara maju, ketersediaan energi secara kasat mata berbanding lurus dengan kesejahteraan.

Menuju Indonesia yang maju, mandiri, dan bermartabat, tentunya bukan sekedar pertumbuhan yang kita targetkan. Sayangnya, para pemimpin negeri ini sepertinya hanya mengenal konsep pertumbuhan dari pelajaran matematika, yaitu sekedar hasil dari hitung-hitungan perkalian, penjumlahan, pembagian, dan pengurangan. Akibatnya, dengan terus-menerus memberi gizi pada bagian yang mempunyai potensi berat berlebih, sedangkan di sisi yang lain dipertahankan kurus, akan menghasilkan angka pertumbuhan.
Seharusnya mereka belajar soal anatomi tubuh. Jika hanya memusatkan pertumbuhan pada bagian tertentu saja, maka tidak akan dihasilkan proporsi tubuh yang baik, apalagi cantik atau seksi. Selain itu, kondisi tubuh pun tidak sehat dan akan timbul penyakit-penyakit yang tidak ringan, seperti penyakit jantung, kolesterol, diabetes, atau kanker.

Thursday, February 03, 2011

Kok Ngga Menulis Lagi?

Ada yang bertanya kepada saya, "kok blog-nya ngga ditulisin lagi sih?"
"Hmmm, saya sedang cukup sibuk mengerjakan ini," jawab saya sambil copy-paste sebuah link website.
majalahenergi.com

[]

Thursday, November 04, 2010

Angkot (2)



DUDUK DI POJOK



Angkot mempunyai karakteristik yang unik. Langit-langit yang pendek (sehingga harus ruku' kalo mau mencari tempat), dan tempat duduk yang lebih mirip sebagai bangku kecil (bahasa jawanya "dingklik").

Masalah yang sering timbul adalah, kalau mau masuk suka susah karena ada sebagian orang yang hobi banget duduk di dekat pintu. Mau keluar pun juga susah karena alasan yang sama. Entah kenapa ada orang-orang tertentu yang hobi pisan duduk di dekat pintu dan sama sekali ngga mau masuk ke tempat duduk yang lebih dalam, apakah mereka tidak sadar kalau mereka mengganggu sirkulasi? Entahlah.

Oleh karena itu, saya hampir selalu memilih tempat di pojok. Alasannya biar tidak menyusahkan orang lain yang keluar/masuk. Juga biar bisa dapet spot untuk melakukan hobi saya, yaitu melamun. Hehe.

Thursday, October 28, 2010

angkot (1)

sopir angkot (A): bayarnya kurang nih.
saya (S): kan biasanya segitu, pak.
A: tapi tadi kan ngetem, jadi kurang dong kalo cuma bayar segini.
S: lha saya ngga minta bapak untuk ngetem. malah ini saya rugi waktu. mau ngga mau pokoknya segitu, saya ngga mau bayar lagi. titik! (langsung ngeloyor pergi).

:-/