Wednesday, May 07, 2014
Dilema Muslim Kontemporer: Antara Korupsi Dan Sektarian
Dilema kaum muslimin dalam demokrasi pada era ini adalah saat harus memilih partai yang terindikasi banyak kasus korupsi, atau mendukung partai yang dikenal cukup bersih namun mewakili kelompok sektarian. Secara formal berdasarkan dokumen-dokumen resminya memang tidak ada partai yang bercorak sektarian, namun ada partai yang dalam praktiknya mendukung gerakan sektarian, sehingga bisa dikatakan bahwa ia adalah 'partai sektarian'. Di satu sisi, semua orang sudah sadar bahwa korupsi telah mengakibatkan begitu banyak kerusakan sosial dan ekonomi. Di sisi lain, paham sektarian juga memiliki daya rusak yang tidak kalah dahsyat: mengancam persatuan bangsa Indonesia. Jika ditimbang-timbang, mana yang lebih berbahaya antara korupsi atau sektarian? Sulit untuk mengukurnya, namun pengalaman di Aceh & Afghanistan menunjukkan bahwa rezim sektarian memunculkan praktek korupsi yang melembaga. Artinya, perilaku korupsi tersebut dilakukan dengan modus yang makin canggih, sehingga kian sulit ditangani.
Mengapa paham sektarian begitu berbahaya telah cukup banyak dibahas di berbagai literatur. Secara umum, kekuasaan oleh kelompok sektarian dipahami sebagai upaya hegemoni sebuah kelompok atas kelompok lain berdasarkan nilai-nilai yang diyakini secara sepihak oleh kelompok penguasa. Kelompok lain yang tidak berkuasa namun memiliki nilai-nilai yang berbeda harus mengikuti tatanan yang ditetapkan oleh kelompok penguasa. Dalam perilaku sehari-hari, kelompok ini bisa dikenali dari sikap mereka yang seakan-akan paling benar dan merasa sebagai otoritas penjaga moral karena menjadi representasi tunggal atas hukum yang mereka yakini. Bagi negara yang sangat beragam seperti Indonesia, situasi tersebut tentu bisa merusak kerukunan.
Namun ada satu hal yang jarang disebut tentang kelompok sektarian, yaitu hubungan antara sektarian dan korupsi. Meski pada fase awal, yaitu saat belum berkuasa dan mendapat dukungan masyarakat luas, mereka tampak simpatik dan ‘bersih’. Tapi situasi bisa berbeda jika kelompok ini telah mendapatkan kekuasaan dan legitimasi.
Energi Nuklir: Bagaimana Dan Untuk (Si)apa
Polemik di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak pernah berhenti. Sayangnya, polemik yang terjadi selama ini tidak banyak memberikan sumbangsih pengetahuan bagi masyarakat maupun membawa kemajuan dalam kebijakan energi kita. Itu terjadi karena masing-masing pihak yang berseteru mengajukan argumennya tanpa pernah memikirkan menyentuh pokok masalahnya, yaitu tata kelola teknologi.
Pihak yang pro gigih berpendapat bahwa pembangunan industri di negara ini membutuhkan nuklir untuk memenuhi kebutuhan energinya. Argumentasinya, jika ingin membangun ekonomi berbasis industri, maka konsumsi listrik Indonesia yang berkisar 700 kilowatt-jam (kWh) per kapita per tahun dipandang masih sangat kurang.
Di sisi lain, negara tetangga Malaysia dan Singapura mengonsumsi listrik masing-masing sebesar 3.500 dan 8.800 (kWh) per kapita per tahun. Karena pasokan energi listrik yang melimpah, kedua negara tersebut leluasa mengembangkan sektor industrinya sehingga mereka menikmati kemajuan ekonomi yang begitu besar. Menurut Kementrian ESDM, data statistik pemakaian listrik dan performa ekonomi di seluruh dunia memang menunjukkan relasi yang positif antara konsumsi energi listrik dengan kesejahteraan sebuah negara.
Pihak yang pro gigih berpendapat bahwa pembangunan industri di negara ini membutuhkan nuklir untuk memenuhi kebutuhan energinya. Argumentasinya, jika ingin membangun ekonomi berbasis industri, maka konsumsi listrik Indonesia yang berkisar 700 kilowatt-jam (kWh) per kapita per tahun dipandang masih sangat kurang.
Di sisi lain, negara tetangga Malaysia dan Singapura mengonsumsi listrik masing-masing sebesar 3.500 dan 8.800 (kWh) per kapita per tahun. Karena pasokan energi listrik yang melimpah, kedua negara tersebut leluasa mengembangkan sektor industrinya sehingga mereka menikmati kemajuan ekonomi yang begitu besar. Menurut Kementrian ESDM, data statistik pemakaian listrik dan performa ekonomi di seluruh dunia memang menunjukkan relasi yang positif antara konsumsi energi listrik dengan kesejahteraan sebuah negara.
Friday, March 07, 2014
Walk Your Feet, Calm Your Mind
Sumber
Awalnya saya mengira cuma saya aja yang suka jalan kaki, bukan hanya karena alasan kesehatan, tapi juga agar makin lancar mendapatkan inspirasi. Eh ternyata tulisan di hbr ini juga mengupas yang sama. Salah satu paragraf di situ:
But we’re wrong to think of walking only as a way to calm the mind, a source of exercise, or as a leisurely luxury. When it comes to work, walking can dramatically increase productivity. In a very real sense, walking can be work, and work can be done while walking. In fact, some of the most important work you may ever do can be done walking.Intinya, selain menyehatkan, berjalan kaki bisa membuat kita semakin fokus dengan apa yang dijalani sekaligus situasi pikiran jadi rileks. Itu lah kenapa berjalan kaki bagi sebagian orang menjadi sarana untuk mencari inspirasi.
Selain berjalan kaki, bersepeda dan jogging juga bagus untuk kesehatan badan dan pikiran. Kebetulan saya hampir tiap hari bersepeda, dan tentang menjernihkan pikiran ini betul. Sementara kalo jogging saya jarang sih, males.
P.s.: Saat saya menulis ini, jadi pengen beli sepatu Hummel. Tampilannya formal dan kasual, enak buat jalan kaki, dan awet. Tapi mahal. *distracted*
Antara Passion Dan Mission
Sekitar 5 tahun belakangan ini kata passion jadi trending. Motivator-motivator lah yang menyebarkan istilah ini sedemikian rupa sehingga terdengar sangat seksi. Betapa tidak, di tengah erangan orang-orang yang tidak bahagia atas pekerjaan (dan hidup mereka), tawaran untuk bekerja atas sesuatu yang disukai adalah sangat menggiurkan.
Bayangkan jika Anda bisa melakukan sesuatu yang Anda sukai. Anda enjoy melakukannya, bisa berprestasi (excellent), terasa mudah menghadapi berbagai tantangan di dalamnya (easy), dan bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan besar (earn). Istilah Easy, Enjoy, Excellent, Earn ini dipopulerkan oleh Abah Rama di leadpro.temubakat.com. Kalo Anda bisa mencapai 4E tersebut hidup akan indah, bukan? Iya, karena pekerjaan tidak lagi membuat susah tidur setiap Minggu malam dan tiap Senin pagi tidak lagi terasa bagai siksaan tiada akhir.
Tapi apakah passion, seperti yang tertuang dalam 4E, itu saja cukup? Mari kita tinjau kisah di bawah ini.
Bayangkan jika Anda bisa melakukan sesuatu yang Anda sukai. Anda enjoy melakukannya, bisa berprestasi (excellent), terasa mudah menghadapi berbagai tantangan di dalamnya (easy), dan bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan besar (earn). Istilah Easy, Enjoy, Excellent, Earn ini dipopulerkan oleh Abah Rama di leadpro.temubakat.com. Kalo Anda bisa mencapai 4E tersebut hidup akan indah, bukan? Iya, karena pekerjaan tidak lagi membuat susah tidur setiap Minggu malam dan tiap Senin pagi tidak lagi terasa bagai siksaan tiada akhir.
Tapi apakah passion, seperti yang tertuang dalam 4E, itu saja cukup? Mari kita tinjau kisah di bawah ini.
Thursday, March 06, 2014
Geuleuh
Setelah sekian lama ga menjenguk blog sendiri, lalu saya iseng baca-baca lagi tulisan yang dulu-dulu.
Eh kok geuleuh ya. *delete ah beberapa*
=))
Eh kok geuleuh ya. *delete ah beberapa*
=))
Update Dikit
Udah lama blog ini ga dijenguk.
Sedikit update, sekarang lagi kuliah di Studi Pembangunan, ngerjain tesis tentang inovasi.
Majalah Energi udah tutup, sekarang lagi bikin proyek di https://twitter.com/itbmagz bareng Humas Rektorat ITB.
Selain itu, saya juga lagi menyusun sebuah buku yang harus terbit Juli tahun ini.
"Ngeblognya" pindah ke media cetak.
Sedikit update, sekarang lagi kuliah di Studi Pembangunan, ngerjain tesis tentang inovasi.
Majalah Energi udah tutup, sekarang lagi bikin proyek di https://twitter.com/itbmagz bareng Humas Rektorat ITB.
Selain itu, saya juga lagi menyusun sebuah buku yang harus terbit Juli tahun ini.
"Ngeblognya" pindah ke media cetak.
Wednesday, February 06, 2013
5 Tes Kebenaran
"Gw bener ngga ya melakukan ini?" Sering kali saya mendapatkan pertanyaan seperti itu dari teman. Biasanya pertanyaan tersebut terlontar kala dia ragu apakah apa yang dilakukannya benar atau tidak. Well, sebenarnya ada 5 pertanyaan untuk mengetahui apa yang kita lakukan itu benar atau tidak. Apa itu? Mari lihat satu per satu.
1. RESIPROKAL
Cara paling mudah untuk mengetahui apakah kita melakukan hal yang baik atau tidak adalah dengan bertanya, "Apakah saya mau jika diperlakukan seperti ini?" Jika Anda menjawab "mau," maka tindakan tersebut bisa diteruskan. Tapi ini bukan satu-satunya tes. Masih ada 4 tes berikutnya.
2. TRANSPARANSI
Ada yang berkata bahwa esensi dari tindakan yang buruk adalah tindakan yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Coba Anda bertanya, "Jika semua orang tahu apa yang saya lakukan, apakah saya akan baik-baik saja atau malu?"
Semua orang di sini bisa berarti teman-teman Anda, keluarga, pacar, pasangan, dosen, atasan, tetangga, dan lain-lain yang terkait.
Dan, kata "tahu" bisa berarti mengetahui dengan detail apa isi percakapan Anda, teks di folder pesan ponsel, setiap tindak-tanduk, dan apa yang ada di hati Anda.
Jika Anda memang sudah bersikap baik sejak di dalam hati, maka Anda tidak perlu khawatir jika orang lain tahu, bukan?!
1. RESIPROKAL
Cara paling mudah untuk mengetahui apakah kita melakukan hal yang baik atau tidak adalah dengan bertanya, "Apakah saya mau jika diperlakukan seperti ini?" Jika Anda menjawab "mau," maka tindakan tersebut bisa diteruskan. Tapi ini bukan satu-satunya tes. Masih ada 4 tes berikutnya.
2. TRANSPARANSI
Ada yang berkata bahwa esensi dari tindakan yang buruk adalah tindakan yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Coba Anda bertanya, "Jika semua orang tahu apa yang saya lakukan, apakah saya akan baik-baik saja atau malu?"
Semua orang di sini bisa berarti teman-teman Anda, keluarga, pacar, pasangan, dosen, atasan, tetangga, dan lain-lain yang terkait.
Dan, kata "tahu" bisa berarti mengetahui dengan detail apa isi percakapan Anda, teks di folder pesan ponsel, setiap tindak-tanduk, dan apa yang ada di hati Anda.
Jika Anda memang sudah bersikap baik sejak di dalam hati, maka Anda tidak perlu khawatir jika orang lain tahu, bukan?!
Monday, March 07, 2011
Kemandirian Ekonomi Bersama Imajinasi
"Innovation is the central issue in economic prosperity"
Michael Porter (Harvard University Professor)
Krisis energi berada di depan mata. Krisis ini bukan hanya soal ketersediaan energi, akan tetapi juga mengenai akibat yang harus ditanggung dari pola pemenuhan dan penggunaan energi. Pemenuhan energi yang ditopang oleh energi fosil selama beberapa dekade terakhir menyebabkan perubahan iklim di bumi. Untuk kasus Indonesia, krisis energi menyangkut pula soal masih cukup besarnya jumlah warga yang belum menikmati listrik. Masalahnya, jika melihat ke negara maju, ketersediaan energi secara kasat mata berbanding lurus dengan kesejahteraan.
Menuju Indonesia yang maju, mandiri, dan bermartabat, tentunya bukan sekedar pertumbuhan yang kita targetkan. Sayangnya, para pemimpin negeri ini sepertinya hanya mengenal konsep pertumbuhan dari pelajaran matematika, yaitu sekedar hasil dari hitung-hitungan perkalian, penjumlahan, pembagian, dan pengurangan. Akibatnya, dengan terus-menerus memberi gizi pada bagian yang mempunyai potensi berat berlebih, sedangkan di sisi yang lain dipertahankan kurus, akan menghasilkan angka pertumbuhan.
Seharusnya mereka belajar soal anatomi tubuh. Jika hanya memusatkan pertumbuhan pada bagian tertentu saja, maka tidak akan dihasilkan proporsi tubuh yang baik, apalagi cantik atau seksi. Selain itu, kondisi tubuh pun tidak sehat dan akan timbul penyakit-penyakit yang tidak ringan, seperti penyakit jantung, kolesterol, diabetes, atau kanker.
Michael Porter (Harvard University Professor)
Krisis energi berada di depan mata. Krisis ini bukan hanya soal ketersediaan energi, akan tetapi juga mengenai akibat yang harus ditanggung dari pola pemenuhan dan penggunaan energi. Pemenuhan energi yang ditopang oleh energi fosil selama beberapa dekade terakhir menyebabkan perubahan iklim di bumi. Untuk kasus Indonesia, krisis energi menyangkut pula soal masih cukup besarnya jumlah warga yang belum menikmati listrik. Masalahnya, jika melihat ke negara maju, ketersediaan energi secara kasat mata berbanding lurus dengan kesejahteraan.
Menuju Indonesia yang maju, mandiri, dan bermartabat, tentunya bukan sekedar pertumbuhan yang kita targetkan. Sayangnya, para pemimpin negeri ini sepertinya hanya mengenal konsep pertumbuhan dari pelajaran matematika, yaitu sekedar hasil dari hitung-hitungan perkalian, penjumlahan, pembagian, dan pengurangan. Akibatnya, dengan terus-menerus memberi gizi pada bagian yang mempunyai potensi berat berlebih, sedangkan di sisi yang lain dipertahankan kurus, akan menghasilkan angka pertumbuhan.
Seharusnya mereka belajar soal anatomi tubuh. Jika hanya memusatkan pertumbuhan pada bagian tertentu saja, maka tidak akan dihasilkan proporsi tubuh yang baik, apalagi cantik atau seksi. Selain itu, kondisi tubuh pun tidak sehat dan akan timbul penyakit-penyakit yang tidak ringan, seperti penyakit jantung, kolesterol, diabetes, atau kanker.
Wednesday, February 16, 2011
Thursday, February 03, 2011
Kok Ngga Menulis Lagi?
Ada yang bertanya kepada saya, "kok blog-nya ngga ditulisin lagi sih?"
"Hmmm, saya sedang cukup sibuk mengerjakan ini," jawab saya sambil copy-paste sebuah link website.
majalahenergi.com
[]
"Hmmm, saya sedang cukup sibuk mengerjakan ini," jawab saya sambil copy-paste sebuah link website.
majalahenergi.com
[]
Subscribe to:
Posts (Atom)